Suharyo

Pesan Natal bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Tahun 2913 dengan tema “Datanglah, ya Raja Damai” mendorong Gereja-Gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia untuk tidak jemu-jemu menjadi agen pembawa damai di mana pun mereka berada dan berkarya.

Pesan itu ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Umum PGI , Pendeta Doktor A A Yewangoe dan Pendeta Gomar Gultom, serta Ketua dan Sekretaris Jendral KWI, Mgr Ignatius Suharyo dan Mgr Johannes Maria Pujasumarta.

Cara-cara menjadi agen perdamaian, menurut pimpinan PGI dan KWI, bisa diwujudkan oleh umat Kristen dengan “terus mendukung upaya-upaya penegakan keadilan, baik di lingkungan kita maupun dalam lingkup yang lebih luas.” Mereka percaya, penegakan keadilan niscaya diikuti oleh sikap hidup yang berintegritas, disiplin, jujur dan cinta damai.

Umat Katolik dan Protestan diminta “menjadi pribadi-pribadi yang adil dan bertanggung jawab, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, gereja, masyarakat dan di mana pun Allah mempercayakan diri kita berkarya.

Selain itu umat Kristen diminta terus memberi perhatian serius terhadap upaya pemeliharaan, pelestarian dan pemulihan lingkungan. “Mulailah dari sikap diri yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam di sekitar kita, penghematan pemakaian sumber daya yang tidak terbarukan, serta bersikap kritis terhadap berbagai bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan.”

Pesan yang ditandatangani 18 November 2014 itu menulis bahwa “semangat cinta damai dan hidup rukun menjadi dasar yang kokoh dan modal yang sangat penting untuk menghadapi agenda besar bangsa kita, yaitu Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden-Wakil Presiden tahun 2014.”

Menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus yang diwartakan para Malaikat dengan gegap gempita kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada jamannya (bdk. Luk. 2:8-12), pimpinan PGI dan KWI mengatakan, “Selayaknya, penyampaian kabar gembira itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini, dalam keadaan apapun dan situasi bagaimanapun.”

Suasana keprihatinan masih mewarnai bangsa Indonesia saat Natal 2013. “Namun, dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan. Tindakan intoleran ini secara sistematis hadir dalam berbagai bentuknya.”

Selain itu, tulis pesan itu, “di depan mata kita juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, dan lingkungan hijau, maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam melalui proyek-proyek yang merusak lingkungan.”

Yang masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. “Usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar masih terus terjadi,” lanjut pesan itu.

Pimpinan PGI dan KWI juga melihat lemahnya integritas para pemimpin bangsa. “Bahkan dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan. Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata.”***

Tinggalkan Pesan