DSCN2425

Terjun dalam politik berarti mengabaikan kepentingan pribadi dan mementingkan masyarakat secara umum, maka orang Katolik yang mau terjun dalam politik harus memiliki keberanian, kesetiaan dan kerelaan untuk berkorban.

Cosmas Batubara berbicara dalam sarasehan bertajuk “Membangun Wawasan Kebangsaan” yang berlangsung di Paroki Santo Gregorius Agung Kota Bumi, tanggal 1 Desember 2013. Sebanyak 310 umat hadir, termasuk umat Katolik dari Paroki Santa Odilia Citra Raya, Santa Monika Serpong, Santo Agustinus Karawaci dan Hati Santa Maria Tak Bernoda Tangerang.

Pria kelahiran Purbasaribu, Simalungun, Sumatera Utara, 19 September 1938, itu menjelaskan bahwa hubungan dia sebagai politisi dengan Gereja baik-baik saja meskipun dia mengakui ada kalanya terjadi perbedaan pendapat antara Gereja dengan pemerintah.

Cosmas Batubara mengutip pandangan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono bahwa menjadi orang Katolik dan terjun dalam politik harus memiliki idealisme. “Perjalanan politik yang saya lewati seperti mengalir saja, tapi tidak juga terhanyut,” katanya.

Mantan Menteri Perumahan Rakyat dan Tenaga Kerja itu menjelaskan, keterlibatan politisi Katolik tidak bisa dilepaskan dari sosok Pastor Van Lith SJ yang kala itu bertugas di Jawa. “Dialah yang menyeruhkan agar orang Katolik Indonesia seharusnya berjuang bersama untuk mencapai kesejahteraan bersama secara umum. Sinyal nasionalisme itu kemudian ditangkap oleh IJ Kasimo yang kemudian mengobarkan semangat untuk berjuang demi kepentingan umum, walaupun ia seorang Katolik.”

Perjuangan IJ Kasimo dikenal dalam tahun 1945-1962 yang kemudian diikuti oleh Frans Seda yang dikenal selama tahun 1960-1966, dan Cosmas Batubara sendiri tahun 1966-1998 bersama rekan-rekan lain, Johannes Baptista Sumarlin, Leonardus Benjamin Moerdani, dan Joseph Soedradjad Djiwandono.

Rasa nasionalisme, menurut mantan ketua dan salah satu pendiri KAMI itu, semakin menggelora mana kala Mgr Albertus Soegijapranata SJ mengajak orang Katolik untuk menjadi 100 persen Katolik dan seratus persen Indonesia.

Sarasehan itu dilaksanakan oleh Seksi Kerasulan Awam Paroki Santo Gregorius Agung Kota Bumi bekerja sama dengan Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI).

Ketua Umum Badan Pekerja Nasional Forkoma PMKRI Hermawi Taslim mengatakan, dia menekuni politik sebagai aktualisasi  amanat Gaudium et Spes yang merumuskan “terpujilah orang-orang yang terjun dalam politik karena mereka memikirkan kesejahteraan bagi banyak orang.”

Orang Katolik, lanjut Taslim, adalah pesaing dalam melakukan kebaikan, maka jangan apriori dengan politik. “Kita harus ikut merawat bangsa ini dengan cara terjun dalam politik,” tegasnya.

Ketua Seksi Kerawam Kota Bumi yang juga ketua panitia Agustinus Wanardi berharap sarasehan itu memberikan pencerahan bagi umat Katolik untuk mengambil sikap dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedangkan kepala paroki Pastor Adrianus Andy Gunardi Pr berharap kehadiran Cosmas Batubara bisa menambah ilmu bagi peserta bahwa politisi itu bukan untuk mengejar kekuasaan melainkan bonum commune communitatis (kebaikan bersama untuk masyarakat).***

Tinggalkan Pesan