IMG_2223

Ketika Topan Haiyan atau Yolanda dari Laut Cina Selatan menerjang Kotamadya Tibiao, yang terletak di bagian barat Pulau Palay, di Filipina, 8 November 2013, Dokter Rue Joanna F Espanola sudah menyiapkan pusat kesehatannya untuk menghadapi para korban topan itu.

Namun ternyata, ketua Dewan Manajemen dan Pengurangan Resiko Bencana Nasional untuk Kotamadya Tibiao, Provinsi Antique, Filipina, itu mengalami sesuatu yang luar biasa, jauh di luar dugaan. Ternyata Yolanda itu sangat kuat, kerusakannya begitu besar.

Menurut data 2010, penduduk di Tibiao sebanyak 24,513 orang. Tidak ada yang tewas karena Yolanda, namun menurut laporan, angin topan itu merusak 92 persen rumah serta bangunan di Tibiao.

Pemimpin pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) Philhealth Tibiao di wilayah Keuskupan San Jose de Antique itu mensharingkan pengalaman saat Yolanda mengunjungi kotanya kepada Paul C Pati dari PEN@ Indonesia yang menemuinya di Tibio dalam rangka Medical Mission dan Relief Operation Keluarga Dominikan Indonesia dan doctorSHARE dari Indonesia, 25-26 November 2013.

PEN@ Indonesia: Sekitar 1300 pasien datang untuk mendapatkan pelayanan medis ini. Apakah ini misi medis yang pertama di sini?

DOKTER RUE JOANNA F ESPANOLA: Sebenarnya ini yang keempat setelah Yolanda menyerang. Masih ada dua misi medis direncanakan datang. Ya, masih banyak orang datang berobat, karena mereka masih trauma dengan topan yang mengunjungi kota ini. Jelasnya, bukan hanya tubuh yang merasakan akibat topan tetapi juga emosional mereka. Maka yang perlu diobati bukan hanya luka tubuhnya. Mungkin juga luka fisiknya hanyalah manifestasi dari depresi, ketakutan atau pobi mereka.

Saya tidak tahu berapa lama ini akan bisa disembuhkan, tetapi saya kira perlu bertahun-tahun bagi masyarakat ini untuk sembuh. Saya sangat  kuatir, orang-orang yang saya jumpai selalu mengungkapkan depresi mereka dan ketakutan mereka. Meskipun hanya ada tiupan angin atau hujan sedikit mereka ketakutan, mereka kuatir akan ada lagi angin ribut.

Jadi, banyak orang datang bukan hanya karena sakit fisik tapi mental. Mereka memiliki perasaan takut kalau-kalau datang lagi bencana alam lain. Saya suka bertanya, sakit kamu  apa sekarang, kan sudah datang kepada saya dan diberikan obat. Masih sakit? Ya, masih sakit, kata mereka. Ya, sudahlah.

IMG_2214

Berapa orang yang meninggal di kota ini?

Untung sekali tidak ada orang tewas di kota ini. Kami sangat gembira. Memang sebelumnya kami sudah menyiapkan dan membagikan makanan dan bahan-bahan lain agar masyarakat bisa hidup dengan baik di pusat-pusat evakuasi. Bidang kesehatan pun sudah banyak persiapan. Saya sangat gembira karena semua mau bekerja sama dan karena pemerintah sangat mendukung. Saya pun sangat gembira dengan kelompok Anda yang mau datang ke sini. Kedatangan kalian merupakan berkat yang besar untuk kami. Tak bisa terungkapkan rasa syukur saya untuk para dokter yang mau membagikan talenta dengan membantu orang-orang yang membutuhkan. Saya juga senang dengan Keluarga Dominikan Indonesia dan Filipina yang memfasilitasi pelayanan ini. Bagus sekali.

Bisakah Anda melukiskan situasi setelah datangnya Yolanda itu?

Setelah gelombang angin topan yang pertama, pohon-pohon patah dan roboh. Pohon-pohon di seputar plaza tempat pelayanan misi medis ini serta di depan puskesmas saya di seberang itu tercerabut dari akarnya. Atap-atap dari kamar bersalin di klinik itu juga terbuka dan air masuk ke dalam klinik.

Mengira bahwa angin topan sudah usai, orang-orang datang ke puskesmas karena terluka oleh atap-atap yang beterbangan. Saya harus mengobati mereka. Saya lupa berapa pasien yang saya obati. Saya tak bisa mengingat jumlahnya.

Saat itu, semua menjadi gelap. Orang-orang pun panik. Semua komunikasi lumpuh. Listrik padam. Begitu gelap. Di puskesmas kami harus gunakan sinar dari telepon genggam dan lampu darurat agar bisa bekerja terus. Untungnya kita sudah siapkan semua itu, termasuk larutan sterilisasi.

IMG_2249

Anda tahu bahwa topan akan datang?

Ya, sudah tahu. Sebelum topan datang, tim penanggulangan bencana kota sudah bertemu. Kami sudah memperkirakan apa yang harus dibuat kalau angin topan datang. Secara mental kami sudah menyiapkan diri. Tetapi sungguh tidak terduga sebesar itu kehancurannya.

Kami sudah mengalami berbagai topan, tapi itu yang pertama dengan kedahsyatan luar biasa. Yolanda datang di saat langit biru dan terang di semua tempat, sekitar pukul 4 sore. Sekitar 45 menit setelah itu … wah … ternyata itu adalah ‘mata’ Yolanda.

Beberapa menit setelah pembersih kotamadya datang membersihkan atau memotong pohon-pohon yang roboh, angin yang tak terkendali bertiup kembali. Mereka mundur dan bersiap kembali. ‘Ekor’ Yolanda yang belum pernah terjadi sebelumnya datang dengan kecepatan 370 km per jam. Betapa kuatnya angin itu. Ia mematahkan pepohonan bahkan mencabutnya dari akar-akarnya serta menerbangkan atap-atap rumah bahkan merobohkan rumah-rumah.

Bagaimana dengan pusat kesehatan Anda?

Saya mulai mengkhawatirkan atap-atap puskesmas. Kalau atap-atap itu hancur, kami harus ke mana, di mana kami harus berlindung? Maka, kami berdoa khusyuk. Kemudian terdengar ribut berbagai reaksi berbeda dari staf-staf saya. Namun, saya tetap tenang dan berdoa agar kami tetap hidup, karena bagaimana bisa membantu orang lain kalau kami sendiri terluka. Di saat yang sama saya berdoa untuk keluarga saya, karena setelah menyelamatkan keluarga, saya harus meninggalkan mereka dan kembali ke puskesmas untuk membantu orang lain.

Sekitar pukul 10 malam, terjadi angin kencang selama tiga jam. Gedung-gedung tua roboh. Kita hanya bisa berdoa. Setelah tiga jam, terdengar sirene patroli polisi. Saya tanya apa yang terjadi. Mereka hanya mengajak saya melihat orang-orang terluka. Tapi saya minta mereka bersihkan dulu pohon-pohon yang tumbang menghalangi jalan. Saat itu saya tidak bisa ikut karena banyak pasien menunggu. Ada pasien yang sebenarnya harus dirujuk ke rumah sakit. Tapi tidak ada pilihan lain, saya harus merawatnya sendiri. Untungnya di pagi hari dia sudah okay. Saya gembira bisa membuatnya sembuh, karena biasanya pasien dengan sakit itu kami kirim ke rumah sakit.

Puskesmas juga menjadi pusat evakuasi. Seorang staf saya bersama keluarga dan orangtuanya mengungsi di situ karena rumahnya berantakan ditiup topan. Bahkan saat itu seorang ibu baru saja melahirkan. Tekanan darahnya naik tinggi. Saya harus mengirimnya ke rumah sakit tapi ibu itu mengingatkan bahwa itu tidak mungkin. Saya lalu memberi dia injeksi anti-hipertensi … di situ saya punya bayi dan pasien lain. Ya, puskesmas itu berfungsi laksana banyak rumah sakit.

Yang saya pikirkan hanyalah agar semua orang di puskesmas baik-baik saja. Pukul 11 malam, saat semua tenang, saya pulang. Sepanjang jalan saya lihat rumah-rumah tanpa atap bahkan hancur. Tapi, keajaiban, rumah kami masih punya atap, saya masih punya rumah, saya masih punya keluarga. Yang rusak hanya garasi, ngak apa-apa, bisa diperbaiki. “Terima kasih Tuhan!” terlontar dari mulutku.

Kemudian saya memeluk erat-erat suamiku dan kembali lagi ke puskesmas. Sudah banyak orang menanti. Saya bersyukur bahwa Tuhan menjaga hidup saya, tidak tahu sampai kapan, karena global warming mungkin akan membuat angin topan yang paling kuat datang.

IMG_2440

Apakah benar bahwa 92 persen rumah rusak karena Yolanda?

Ya benar. Hanya 8 persen yang masih utuh, termasuk rumahku. Memang garasi rumahku rusak dan sebagian atap terangkat. Saya kira, Tuhan mau membantu keluargaku supaya saya bisa tetap bekerja. Tapi saya berharap lebih banyak dari Tuhan. Saya minta agar orang lain mencari saya untuk penyembuhan. Dan betul, besoknya anak perempuan saya sakit, karena mungkin dia makan sembarangan atau makanan yang sudah rusak selama saya tidak dan. Dia diare.

Saya lalu bawa anak saya dengan  infus ke puskesmas. Teman dokter lalu datang membantu. Dia minta saya tidak mengkhawatirkan anak saya agar saya bisa kerja. Dan Tuhan begitu baik, dia menyembuhkan anakku. Saya membawa dia pulang ke rumah.

Sudah banyak orang datang memberikan uang untuk membangun rumah masyarakat yang rusak, termasuk kelompok kalian. Namun banyak yang belum membangun kembali karena butuh banyak bahan bangunan. Memang sebagian besar rumah di sini terbuat dari bambu dan atap daun nipah.

Kapan keadaan ini akan pulih kembali?

Operasi bantuan masih berlangsung sampai sekarang. Saya kira, itu akan berlangsung lama. Sinyal komunikasi sudah ada. Lambat laun listrik mulai ada di kota, tapi belum di pedalaman. Air juga sudah ada setelah seminggu kami tidak punya air. Lima truk harus datang dari kota lain membawa air. Namun, kami masih harus memasukkan tablet pembersih air agar air bisa diminum.

Inilah situasi kami di sini. Meski menghadapi Topan Yolanda yang kuat, saya yakin, Tuhan tetap memperhatikan segalanya.***

IMG_2170 Gereja Paroki San Nicolas de Tolentino, Tibiao, Antique

Tinggalkan Pesan