DSCN2298

Setelah sekian lama menderita sakit ginjal, akhirnya pemimpin Graha Lansia Marfati, Suster Paula Turang JMJ, meninggal dunia di biara suster JMJ di Jalan Sitanala, Tangerang, Banten, yang sekompleks dengan graha itu, tanggal 22 November 2013 pukul 13.30, disaksikan sejumlah rekan suster JMJ, kedua orangtua, adik dan kakaknya.

Graha Marfati didirikan tahun 1984 oleh Pastor WI Tek Chun. Awalnya panti ini hanya menampung lansia yang tidak memiliki keluarga sebanyak 10 sampai 12 orang. Tahun 2003, sewaktu Pastor Stephanus Bratakartana SJ menjadi kepala Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Tangerang, panti itu dibangun lagi dan tahun 2004 berubah nama menjadi Graha Lansia Marfati, yang dapat menampung 65 orang.

Kepergian Suster Paula juga membawa keharuan mendalam dan rasa kehilangan bagi lebih dari 60 opa-oma penghuni graha itu serta seluruh umat Katolik Paroki HSPMTB, karena selama sebelas tahun berkarya di graha dan wilayah paroki itu semangat Suster Paula telah menjadi teladan bagi pelayan-pelayan umat setempat.

“Kita semua ditinggalkan Suster Paula yang memiliki dedikasi tinggi dan penuh energik dalam pelayanan. Kiranya kepergian beliau menjadi teladan bagi kita semua yang ditinggalkan,” ungkap Pastor Ignatius Swasono SJ, kepala Paroki HSPMTB Tangerang ketika memimpin Misa yang dihadiri seluruh umat di aula graha itu.

Sosok penuh energik dari suster itu juga terungkap dalam khotbah Pastor Melky Tore MSC dari Paroki Pluit, Jakarta, yang memimpin Misa tanggal 23 November 2013. Misa dengan konselebran Pastor Dismas Tulolo SJ dari Paroki HSPMTB dan Pastor Theodorus Rumondor MSC dari Paroki Pluit Jakarta itu dihadiri ratusan umat yang melayat suster yang dikenal sangat dekat dengan opa-oma di graha itu.

“Komunitas JMJ, opa-oma, seluruh umat Paroki HSPMTB Tangerang kehilangan  sosok yang memiliki semangat tinggi dalam pelayanan. Kesetiaan dan kepatuhannya menjadi teladan bagi seluruh umat yang ditinggalkan,” kata Pastor Melky.

Ketika diminta komentarnya, Suster Fransineti JMJ mengatakan kepada PEN@ Indonesia bahwa Suster Paula dikenal sebagai orang serius, gembira dan apa adanya. “Ia juga berteman dengan siapa saja, baik tua mau pun muda. Meskipun Suster Paula beberapa tahun terakhir mengalami sakit, namun ia tidak menunjukkan ekspresi bahwa ia sedang sakit,” cerita suster itu.

Suster Paula dikenal sebagai pekerja keras, kata Suster Fransineti yang sudah mengenalnya sejak di Tomohon, Sulawesi Utara, ketika menjadi Direktris Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon dan pembimbing para perawat di rumah sakit itu.

Kendati sakit, lanjut Suster Fransineti, “Suster Paula tekun berdevosi kepada Kerahiman Ilahi. Suatu ketika sekitar tiga tahun lalu dalam kesaksian di depan umat Lingkungan Santo Paulus Tangerang, Suster Paula menceritakan penyakit yang dideritanya (ginjal). Dalam kesaksian itu, Suster Paula mengatakan bahwa dia bisa bertahan hingga saat itu karena Tuhan masih memberikan perlindungan dalam kehidupannya, padahal ia telah menjalani 25 kali operasi. Bahkan hingga wafat kemarin Suster Paula telah melewati 33 kali operasi.”

Seluruh umat, handai tolan dan kerabat secara bergantian melayat jenazah suster yang dikenal periang. Para imam datang bergantian memimpin Misa dan memberkati jenazah suster yang dilahirkan sebagai anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Suster Paula sebelumnya bertugas di Tomohon. Tahun 2002 ia mendapat tugas sebagai pemimpin Graha Lansia Marfati, yang sebetulnya merupakan bagian perawatan atas sakit yang dideritanya.***

Tinggalkan Pesan