Gereja St Tomas

Oleh Paul C Pati.

Di hari terakhir medical mission di Filipina yang dilakukan oleh doctorSHARE Indonesia bekerja sama dengan Keluarga Dominikan Indonesia, 27 November 2013, PEN@ Indonesia serta ketua  doctorSHARE dokter Lie Augustinus Dharmawan dan dua dokternya serta dua relawan mengunjungi Kota Dao dan Kota Dumalag di Propinsi Capiz.

Dalam kunjungan itu, kami menyaksikan sekolah serta biara suster OP dan gereja-gereja paroki yang rusak. Sebagian atap Persekolahan Bunda Kita dari Fatima di Dao yang digunakan untuk SD hingga SLTA terbang diterjang topan dan air masuk merusak banyak buku dan peralatan tulis.

Sementara itu, Gereja Paroki Santo Tomas yang bersebelahan dengan persekolahan itu nampak berantakan. Beberapa orang sedang bekerja memperbaikinya, namun gereja yang semua atapnya sudah tidak ada lagi kecuali langit-langit di bagian altar, nampak basah dan becek. Bangku-bangku dan perlengkapan gereja hingga sakristi berantakan. Beberapa patung patah atau pecah.

Walikota Dao, Joselito Y Escutin, yang menerima kunjungan kami di kantornya yang terletak bersebelahan dengan gereja itu,  mengatakan, “saya sendiri melihat dari ruangan ini bagaimana atap-atap gereja itu beterbangan.”

Biara dan kapel suster Dominikan (OP) yang terletak antara sekolah dan gereja juga mengalami kerusakan atap dan langit-langitnya sehingga air masuk merusak buku-buku dan peralatan lain.

Sudah hampir tiga minggu berlalu sejak Topan Yolanda menyerang Filipina, namun sepanjang jalan yang kami lalui di Provinsi Capiz  masih terlihat banyak rumah, kapel, dan kantor serta fasilitas umum rusak dan belum diperbaiki, pohon-pohon yang tumbang dan patah, serta tiang listrik yang miring bahkan terhempas ke tanah dan kabel-kabel listrik yang putus. Sudah tiga minggu mereka menjalani malam dalam kegelapan.

Operasi

Suasana yang sama juga nampak saat tim pergi memberikan pelayanan medis bagi warga di Tibiao, Anrique. Dalam pelayanan selama dua hari di dua tempat yang berbeda, dalam kerja sama dengan Relief Operation dari Kolese Santo Antonius yang berpusat di San Jose dan puskesmas setempat, doctorSHARE melayani sekitar 900 orang, 29 di antaranya mendapatkan pelayanan operasi ringan.

Penobatan

Namun, “yang paling dibutuhkan di sini adalah tempat berlindung,” kata Walikota Dao kepada PEN@ Indonesia seraya menginformasikan bahwa 97 persen dari 6.800 rumah di kota itu hancur dan rusak. Pemandangan yang sama masih mewarnai perjalanan ke Kota Dumalag.  Yolanda tidak hanya merusak daerah pantai tapi juga daerah pegunungan itu.

Di Dumalag, nampak gereja Santo Martinus hanya mengalami kerusakan di atap candi dan sebagian altar, sedangkan sekolah-sekolah yang dijalankan para suster OP di sebelahnya mengalami kerusakan sebagian atap sehingga merusak langit-langit serta peralatan sekolah dan banyak buku, dan TK mengalami pecah kaca-kaca jendela.

Namun, atap dan langit-langit kapel suster OP yang berhubungan dengan sekolah itu jebol merusak isi kapel. Biara tua yang terbuat dari kayu yang berhubungan dengan kapel itu juga rusak karena air masuk dari atap. Selama dua hari para suster menyingkir ke pastoran paroki Santo Martinus. Banyak buku termasuk Kitab Suci rusak tak bisa digunakan.

Suster Maria Antonina Paguntalan OP, pemimpin persekolahan itu bercerita bahwa di hari-hari pertama setelah bencana, anak-anak yang biasanya ribut di dalam kelas hanya diam membisu. “Ternyata mereka trauma. Maka, kami tidak memberi pelajaran tapi membiarkan mereka untuk sharing dan refleksi apa yang terjadi,” cerita suster.

Sudah banyak bantuan datang. Di satu ruangan di depan biara terlihat banyak sumbangan dari negara lain yang siap dibagikan. Para suster dan murid-murid tak hentinya bersyukur dengan doa Rosario setiap hari. “Saya belajar banyak dari anak-anak didik itu,” kata suster. Dalam perjalanan, kami beberapa kali menemui NGO dan  tentara luar negeri sedang membawa dan membagikan bantun kemanusiaan bagi para korban.

Suster Maria Trinidad Espino OP yang bertugas sebagai pemimpin asrama putri di Iloilo mengatakan kepada PEN@ Indonesia bahwa Yolanda menjadi saat refleksi yang baik. “Kami tidak punya apa-apa di dunia ini, selain nilai-nilai yang baik dan iman. Kekuasaan dan keindahan semua akan berlalu. Kami tak bisa buat apa-apa kecuali bersama dengan Dia.”

Yang bisa para suster lakukan setelah bencana, jelas suster, adalah pergi ke paroki-paroki dan dengan suka rela mengepak bantuan-bantuan dan membawanya kepada para korban Topan Yolanda di daerah-daerah terpencil yang dilanda bencana itu, seraya memberikan konseling.

Di capiz

Menurut Suster Trinidad Espinon OP perlu waktu setahun untuk memulihkan keadaan atau membangun kembali semua yang rusak. “Yang penting sekarang kita sudah mulai terus mengobati trauma mereka, dengan berbagai nasehat dan konseling,” kata suster.

Ketika PEN@ Indonesia  berada di lapangan persekolahan Santo Martinus terlihat tiga Kitab Suci sedang dijemur. Yang menarik, halaman Kitab Suci yang terbuka bercerita tentang penolakan Allah terhadap rencana dan kerinduan tulus Daud untuk mendirikan rumah bagi kediaman Allah (1 Tawarikh 17:1-15).

Saya merenung, mengenang masih banyaknya orang miskin di Filipina yang tergambar dari banyaknya rumah kecil sangat sederhana yang terbuat dari bambu dengan atap rumbia yang semuanya hacur karena terlalu sangat lemah menahan Topan Yolanda berkecepatan hingga 315 km per jam. Saya mengenang Indonesia, yang juga terlalu megah memberikan dan membangun rumah bagi Tuhan, sementara masih banyak umat dan sesama tinggal di rumah reot atau gubuk, bahkan sangat banyak orang tidak punya rumah. Bukankah Allah hadir di segala tempat? Ah, apakah semua kerinduan kita untuk melembagakan agama itu sesuai kehendak Tuhan? ***

Kitab Suci

Tinggalkan Pesan