The Imam and The Pastor

Melalui pendidikan agama, sejak dini banyak anak sudah ditanamkan rasa fanatisme yang kuat, sudah diajarkan sejarah-sejarah peperangan,  sejarah bagaimana menyalahkan orang, dan membunuh orang karena beda keyakinan. Maka, yang terjadi dalam gambaran anak-anak kelak adalah perang karena beda keyakinan.

Aktivis lintas agama, Yayan M Royani, berbicara dalam diskusi setelah nonton bareng film “The Imam and The Pastor” di Kantor Pelayanan Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KAS), tanggal 12 November  2013.

Acara itu dilakukan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (KAS), Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, dan Forum Kerukunan Umat Beragama Generasi Muda Jawa Tengah, “sebagai sarana refleksi bersama dalam rangka memperkuat dialog dan perdamaian di kota Semarang.”

Melihat pendidikan agama seperti itu, pegiat eLsa Semarang dan GUSDURian dari Universitas Wahid Hasyim Semarang itu mengatakan, “pendidikan mesti diperbarui demi menciptakan perdamaian,” karena orang Indonesia yang mempunyai kultur toleran bisa menjadi sangat fanatik dan intoleran ketika masuknya agama asing yang membawa semangat fanatisme yang kuat.

Film “The Imam and The Pastor” (2006) yang berdurasi 39 menit itu menggambarkan persahabatan dua tokoh agama, Islam dan Kristen, yakni Imam Asyafa dan Pastor (Pendeta) James, di salah satu kota di Nigeria.

Sebelumnya, dua pemimpin agama itu bermusuhan, terlibat konflik yang saling memakan korban, saling mendendam dan berusaha mengenyahkan satu dengan yang lain. Namun, suatu ketika mereka melakukan rekonsiliasi, bahkan bersama-sama menyebarkan nilai-nilai dan semangat perdamaian di Nigeria, mendirikan lembaga antariman dan melakukan kampanye perdamaian dari kota ke kota.

Dalam nonton bareng yang dihadiri para pemuda dari berbagai agama itu, Yayan menyinggung peran agama dalam membangun perdamaian. “Kerapkali media justru mengondisikan terjadinya permusuhan,” kata Yayan seraya berharap agar media bisa menjadi kekuatan dalam mendorong perdamaian.

Menurut Direktur eLSA Semarang, Tedi Kholiludin, perbedaan sudah menjadi fitrah manusia. “Yang terpenting adalah bahwa dalam perbedaan itu manusia harus saling menghormati,” katanya seraya memuji perkembangan positif di kota Semarang terkait dengan upaya orang-orang muda dalam membangun kerukunan dan perdamaian.

Tedi bercerita bahwa gerakan orang muda dalam merajut relasi umat beragama sudah maju, jika dibanding dengan awal tahun 2000, saat pola seperti itu tidak terlalu masif. “Sekarang ada warna baru dalam komunitas muda lintas agama di kota Semarang,” katanya.

Tedi mengajak kaum muda lintas agama agar tetap bahu membahu membangun perdamaian dan orang-orang muda dari setiap agama agar mendalami keagamaannya sendiri, “supaya memudahkan mereka dalam melakukan dialog antarumat beragama.”***

Tinggalkan Pesan