Kehancuran di Filipina akibat Topan Haiyan, Foto AP

Para uskup Filipina menyerukan doa novena dan amal bagi para korban topan besar yang telah merenggut nyawa sekitar 10.000 orang. Direktur media Konferensi Waligereja Filipina Mgr Pedro Quitorio mengatakan kepada Radio Vatikan bahwa dana yang terkumpul selama novena yang berlangsung dari tanggal 11 hingga 19 November 2013 akan disalurkan ke daerah krisis melalui Caritas Filipina.

Topan Haiyan, yang dikenal sebagai Yolanda, mencapai daratan tanggal 8 November, dan memaksa sekitar 600.000 orang mengungsi dan menyebabkan kerusakan luas, khususnya di Provinsi Leyte.

Saat Doa Angelus mingguan di hari Minggu, Paus Fransiskus berdoa bagi rakyat Filipina, seraya berseru kepada orang-orang di wilayah itu untuk kedua berdoa bagi mereka yang menderita dan menyediakan bantuan konkret.

Tiga hari setelah badai melanda negara itu, lebih dari 9,5 juta orang membutuhkan bantuan di sembilan provinsi.

Sekretaris Negara Vatikan Uskup Agung Pietro Parolin telah mengirimkan telegram kepada Presiden Filipina Benigno Aquino III atas nama Bapa Suci. Dia menulis bahwa Paus “sangat sedih atas kehancuran dan korban jiwa yang disebabkan oleh topan super itu,” dan bahwa Paus “mengungkapkan solidaritas sepenuh hati dengan semua yang terkena dampak badai ini dan akibat-akibatnya.”

Paus juga mengobarkan semangat otoritas sipil dan personel gawat darurat saat mereka bekerja untuk membawa bantuan kepada para korban badai.

Sekretaris Eksekutif Caritas Filipina-NASSA, Pastor Edwin Gariguez mengatakan, “Ini pertama kalinya Filipina mengalami bencana sebesar ini. Meski sudah melakukan tindakan pencegahan, bencana ini melampaui segala harapan. Kita tidak bisa membayangkan badai sebesar ini menghantam Filipina.”

Sebagian besar korban berada di Provinsi Leyte. Di sana, gelombang pasang setinggi hampir 10 kaki menghancurkan ibukotanya, Tacloban City.

Tanggal 10 November, Tim Caritas dan Tim Catholic Relief Services (CRS) berhasil mencapai Pulau Leyte untuk menilai situasi kemanusiaan. “Korban meningkat dari hari ke hari. Ada mayat di mana-mana. Terjadi trauma. Kebutuhan yang paling mendesak adalah makanan dan air,” kata Pastor Gariguez.

Gereja-gereja Katolik, biara-biara, dan sekolah-sekolah juga rusak akibat topan itu, dan “pada Senin pagi kami bekerja dengan keuskupan-keuskupan tetangga seperti Maasin untuk mendapatkan makanan di pinggiran jalan,” kata Pastor Gariguez.

Laporan dari pulau-pulau lain, menurut Caritas Filipina, menunjukkan kerusakan yang sama. “Kami dapatkan laporan dari Panay dan Biliran bahwa situasi di sana sangat sulit. Rumah hancur hingga rata tanah. Ada banyak korban. Mereka belum dicapai. Orang-orang kekurangan kebutuhan dasar,” kata Pastor Gariguez.

Caritas dan CRS mengatakan, yang menjadi prioritas di saat operasi bantuan siap dilakukan adalah tempat penampungan darurat, air dan sanitasi, barang-barang rumah tangga (selimut, peralatan dapur, tempat masak), air minum dan toilet.

“Kami benar-benar membutuhkan semua bantuan yang bisa kami dapatkan itu,” kata Pastor Gariguez. “Ini bencana. Kami menghargai semua pesan solidaritas dari organisasi Caritas dan pendukung-pendukungnya di seluruh dunia,” lanjut imam itu.

Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Oscar Rodriguez Maradiaga mengatakan, “Doa-doa kami bersama orang-orang Filipina. Mereka sudah banyak menderita bencana alam di masa lalu, selalu dengan ketahanan dan iman yang besar. Kepada mereka bisa dipastikan bantuan dan dukungan Caritas seluruh dunia.”

Data terbaru tanggal 11 November 2013 dari Vatikan menyebutkan bahwa Paus Fransiskus melalui Dewan Kepauan ‘Cor Unum’ telah memutuskan mengirim sumbangan sebesar 150,000 dollar untuk membantu penduduk Filipina yang dilanda topan Haiyan.

Jumlah uang yang akan dibagikan oleh Gereja lokal ke wilayah-wilayah yang paling rusak dilanda bencana itu akan digunakan untuk membantu orang-orang yang diselamatkan dari daerah yang dilanda banjir dan dimaksudkan sebagai ungkapan pertama dan konkret dari kedekatan spiritual dan dorongan kebapakan dari Sri Paus.***