Mencari air pun sudah akibat topan itu. Foto Erik De Castro, Reuters

Saat ini, para korban Topan Super Haiyan di Filipina sudah putus asa untuk mendapatkan makanan dan air. Mereka sudah kehilangan tempat tinggal. Beberapa orang kehilangan akal karena kelaparan dan kesulitan menghadapi kematian anggota keluarga mereka.

Suster Cecilia Espenilla OP, ketua Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (JPCC) dari Para Suster Dominikan Internasional – Filipina (DSI-P) mengirim surat elektronik (email) kepada teman-temannya seraya meminta agar email ini dikirim juga kepada teman-teman mereka, agar para korban topan Topan Haiyan, yang dikenal sebagai Yolanda, yang menghantam negara tanggal 8 November, mendapatkan bantuan.

Tahun 2013 adalah tahun yang sangat sulit bagi Filipina, kata suster itu. Anggota DSI-P memperbanyak sumbangan uang guna membantu peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pemindahan dan penderitaan ribuan orang.

Suster lalu menyebut dua peristiwa besar. Yang pertama adalah pembakaran tiga komunitas besar di Zamboanga, Mindanao, yang dilakukan pemberontak Muslim selama tiga minggu di bulan September 2013. “Banyak orang kehilangan rumah dan harta miliknya dan lebih dari 200 orang meninggal,” tulisnya.

Yang lebih besar lagi adalah gempa berkekuatan 7,2 melanda Visayas Tengah tanggal 15 Oktober 2013. “Dua Kongregasi Dominikan merasakan dampaknya. Beberapa bangunan sekolah mereka mengalami keretakan yang cukup besar sehingga beberapa ruang kelas tidak mungkin dipakai. Banyak orang kehilangan rumah dan lebih dari 200 orang meninggal akibat gempa ini,” kata Suster Cecilia.

Suster itu yakin, pembaca surat ini telah mendengar berita dan foto-foto terbaru tentang topan terkuat yang mencapai daratan dalam catatan sejarah dunia yang menghancurkan bagian tengah Filipina Jumat lalu, tanggal 8 November 2013.

“Itu topan super diukur dari kekuatan dan besarnya daerah bencana. Kehancuran itu merupakan tragedi besar kemanusiaan, tak bisa dibayangkan. Satu kota saja (Tacloban, ibu kota Provinsi Leyte), yang hampir tersapu bersih oleh topan itu, diperkirakan memiliki sebanyak 10.000 orang. Evakuasi dan persiapan sudah dilakukan hari sebelum topan, tapi topan super jauh, jauh lebih kuat daripada persiapan yang dilakukan,” suster itu menjelaskan.

Berdasarkan keadaan itu, sebagai ketua JPCC dari DSI-P, suster itu memohon sumbangan uang untuk disampaikan kepada para korban topan. “DSI-P akan mengupayakan yang terbaik untuk membawa bantuan ini ke tempat-tempat yang paling terpengaruh,” kata Suster Cecilia seraya mengajak pembaca email itu memberi  sumbangannya ke:

ACCOUNT NAME: St. Martin’s Foundation, Inc.

ACCOUNT NUMBER: 037-21-000153-1

BRANCH: Del Monte

ADDRESS: Bank of Commerce Bldg. Del Monte Avenue, corner D. Tuazon, Quezon City, Philippines

SWIFT CODE: PABIPHMM

“Tolong informasikan melalui alamat email saya (cecilespen04@yahoo.com) setiap deposito yang dibuat, sehingga kita bisa mencatat dengan benar jumlah yang diberikan dan kami bisa memberikan konfirmasi tentang penerimaan itu. Atau Anda dapat menghubungi nomor ponsel saya 00639177375075,” tulis Suster Cecilia seraya berterima kasih dan meyakinkan bahwa berapa pun besar yang ditransfer “dapat membuat kehidupan masyarakat lebih baik dan lebih bahagia di saat-saat paling tragis.”

Jumlah orang yang meninggal teridentifikasi menurut CBCNews adalah 1774 orang dan 2487 terluka, sedangkan jumlah resmi orang meninggal diperkirakan akan mencapai 10.000 orang. Sedangkan PBB memperkirakan lebih dari 10.000 orang yang  tewas dan jumlah korban meningkat dengan cepat. Menurut data tanggal 13 November 2013 yang ditayangkan jam 12.35 waktu Filipina,  PBB memperkirakan 11,3 juta menjadi korban, 673,000 kehilangan tempat tinggal dan 1798 meninggal dunia.

Data resmi itu dikeluarkan oleh National Disaster Risk Reduction and Management Council (NDRRMC) pada pukul 7 pagi waktu setempat mengatakan bahwa korban tewas resmi pemerintah akibat dari topan dengan nama internasional ‘Yolanda’ itu meningkat menjadi 1.833, dari jumlah itu 1.660 berasal dari Timur Visayas , yang meliputi provinsi Leyte , Samar Timur dan Samar. Angka ini jauh lebih rendah dari perkiraan 10.000 kematian yang dilaporkan oleh pejabat setempat di Tacloban City.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN , Presiden Benigno Aquino III mengatakan perkiraan korban tewas saat ini adalah antara 2.000 dan 2.500. Dia mengatakan tidak ada dasar yang jelas untuk perkiraan 10.000 orang tewas itu.

Dari wawancara yang dilakukan televisi ANC diuraikan bahwa di mana pun orang-orang diwawancarai semua mengatakan “mereka membutuhkan bantuan apapun yang ingin kalian berikan.” Mereka mengatakan, mereka tidak bisa bekerja untuk mendapatkan sesuatu, mereka akan mati kalau bantuan tidak segera datang, karena tak ada makanan, air dan obat.

Pastor Andreas Kurniawan OP yang bertugas sebagai Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya dan Penasehat Dominikan Awam Indonesia mengatakan kepada PEN@ Indonesia bahwa Keluarga Dominikan Indonesia juga “ingin mengumpulkan bantuan untuk-saudara-saudari kami di sana.”***

Kapal pun tersangkut di atas rumah rumah. Foto VOA