IMG_4376

Negara ini sudah super rusak dari semua lini, baik dalam lini sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya. Yang paling rusak adalah sisi hukum. Ibarat halilintar (Ketua Mahkamah Konstitusi) Akil Mochtar ditangkap oleh KPK. Negara kita super rusak. Lalu pertanyaannya, orang Katolik harus bagaimana?

Pernyataan dan pertanyaan itu disampaikan Tjipta Lesmana saat menjadi pembicara dalam Temu Pastoral Keuskupan Bandung yang dihadiri lebih dari 200 peserta dari semua 23 paroki keuskupan itu di Lembang, 18-19 Oktober 2013.

“Memang politik itu jahat, tapi kita jangan menjauh darinya,” kata pakar komunikasi itu seraya mengamati tiga kubu orang Katolik berhadapan dengan politik. “Pertama, sikap tidak peduli dan cuek; kedua, peduli pasif, ikut perkembangan politik namun tidak berbuat apa-apa, dan ketiga, peduli aktif,” katanya.

Meski Indonesia sedemikian rusak dan semakin kotor, pengamat politik itu mengajak umat Katolik terlibat di dalamnya dan semakin aktif, tidak menjauhi lingkungan politik, tapi menghadapi lingkungan kotor itu, karena “kita sudah dilahirkan di Indonesia,” Gereja harus bersinggungan dengan lingkungan itu.

Tjipta Lesmana memberikan semacam prediksi situasi politik dalam negara yang belum siap melaksanakan demokrasi liberal dan dipenuhi banyaknya korupsi, dan mengajak para imam untuk memahami politik dan belajar teori retorika atau komunikasi Aristoteles yakni ethos  (etika), logos (logika), pathos (emosional). Bahkan disampaikan kemungkinan koalisi yaitu mencari figur bakal calon presiden dan wakil presiden yang bisa ‘dijual’, serta anatomi bakal calon presiden pada Pilpres 2014. “Jokowi maju, satu detik pun jangan ragu tusuk Jokowi,” katanya.

Selain Tjipta Lesmana tentang “Situasi Politik Terkini dan Sikap Umat Katolik,” temu pastoral itu juga mendengarkan masukan tentang “Bertolak, melunasi janji kemerdekaan dan melihat peluang hidup berbangsa dan bernegara” dari Rektor Universitas Paramadina, Anis Baswedan, dan “Gagasan Teologis dan Biblis Keterlibatan Dalam Kehidupan Berbangsa” dari Pastor Laurentius Tarpin OSC.

“Gereja memiliki kewajiban untuk mempersiapkan kaum awam melalui pendidikan dan kaderisasi untuk terjun dalam politik, dan harus belajar keluar dari zona kenyamanan dan bergabung dengan kelompok lain,” kata Pastor Tarpin seraya menegaskan bahwa umat beriman dipanggil untuk mewujudkan iman, harapan, dan kasih kita melalui kepedulian dan keterlibatan dalam persoalan-persoalan kebangsaan.

Selain itu, Suster Mariana OP membagikan tentang pelayanan bagi kaum lansia di Panti Werda Karitas, Cibeber, dan Pastor Fabianus Muktiyarsa Pr tentang pelayanan pastoral di Paroki Indramayu.

Setelah mendengar masukan dan berdiskusi dalam kelompok, wilayah, yayasan pendidikan, dan komisi-komisi keuskupan, bermunculanlah berbagai ide dan usulan untuk paroki dan wilayah serta keuskupan. Keuskupan diminta melakukan pendidikan, dialog, pengarahan dan kaderisasi politik, serta voter education menjelang Pemilu 2014, melakukan doa kebangsaan di masa Adven dan APP, memberikan informasi berkaitan dengan caleg dan Pemilu, memberikan pencerahan ulang sebelum pileg dan pilpres, membentuk gerakan relawan kebangsaan, mengantisipasi chaos menyambut dan seusai Pemilu 2014.

Menurut Vikjen Keuskupan Bandung Pastor Wirasmohadi Soerjo Pr tema “Dialog tentang kehidupan dan kepedulian bangsa” diambil untuk 2014 agar, imam, suster, awam bergandengan tangan membangun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang semakin baik, adil, aman, tenang dan damai.

Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Bandung Pastor Paulus Rusbani Setyawan Pr, yang menjadi penanggung jawab Tahun Pastoral 2014 mengatakan, tema pastoral itu dimaksudkan untuk  mencari bentuk pastoral macam apa yang akan dilakukan di tahun itu.

“Jadi bagaimana kita bisa menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia, bagaimana Keuskupan Bandung bisa mewarnai kehidupan berbangsa saat ini dan mendatang,” kata imam yang akrab dipanggil Pastor Iwan itu seraya menjelaskan bahwa umat Katolik sering merasa rendah diri dalam berbangsa dan bernegara ini, “sehingga politik sering ditinggalkan dan kegiatan sosial pun ditinggalkan pula.”

Tahun 2014 bagi Keuskupan Bandung, kata Administrator Apostolik Keuskupan Bandung Mgr Ignatius Suharyo, adalah Tahun Kebangsaan dan bukan Tahun Pemilu. “Pastinya masih ada banyak hal ketimbang pemilu,” kata Mgr Suharyo. Menjawab usulan tantang merayakan Tahun Kebangsaan dalam kerangka Pancasila, uskup meminta agar dipilah-pilah mana yang bisa dimasukkan dalam kelima sila itu.

Menanggapi berbagai rencana dan usul dari berbagai kelompok diskusi, Mgr Suharyo menegaskan sesuatu yang harus diperjuangkan yaitu “spiritualitas keterlibatan” yang dalam bahasa teknis iman disebut “spiritualitas inkarnatoris atau spiritualitas penjelmaan,” dan menegaskan bahwa “Allah memilih untuk masuk dalam hiruk-pikuk kehidupan, dalam dunia yang kacau balau ini, agar bersama-sama mengarungi kesemrawutan dunia ini.”***