Dari kiri ke kanan Pastor Fransiskus Katino Pr (Sedang membacakan bacaan Injil), Pastor Izak Resubun MSC dan Mgr Leo Laba Ladjar OFM (Mandataris Uskup SePapua)

Hampir semua hidup Yesus diawali dengan doa. Kitab Suci mencacat bahwa Yesus berdoa saat langit terbuka dan berkomunikasi dengan Allah dan Roh Kudus. Penginjil lain mengatakan Yesus berdoa di Taman Getzemani hingga keringatnya berdarah. Yesus berkomunikasi tak henti-hentinya dengan Bapa-Nya. “Berdoa adalah komunikasi iman yang mahapenting,” kata Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM.

Mgr Leo Laba Ladjar berbicara dalam khotbah Misa HUT ke-45 Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura-Jayapura bertema “Kontekstualisasi iman dalam kehidupan konkret” yang dihadiri sekitar 100 umat Katolik di Jayapura, para mahasiswi Asrama Putri Katolik Nurjaya, dan alumni STFT, di depan aula kampus itu, 10 Oktober 2013.

Didampingi konselebran Pastor Izak Resubun MSC dan Pastor Fransiskus Katino Pr, Uskup Jayapura berharap agar dosen dan mahasiswa mengerti bahwa semua ilmu harus terarah pada Tuhan. “Kalau direfleksikan, doa bukan terbatas para ilmu saja, tetapi lebih dalam lagi berkomunikasi dengan Tuhan,” kata Mgr Leo.

Mengomentari ensiklik Paus Fransiskus berjudul Lumen Fidei (Terang Iman), uskup mengatakan bahwa “Teologi hendaknya merupakan ungkapan kerinduan untuk menyelidiki dan memahami lebih dalam kehendak Tuhan di tengah-tengah kita, maka umat harus terus mencari Tuhan melalui terang Roh Kudus, karena berteologi bukan hanya ilmu tetapi penghayatan iman.”

Bulan Agustus 1964, uskup Papua mendirikan seminari tinggi di Jayapura untuk mendidik calon imam bagi keuskupan di seluruh wilayah Papua. Karena lembaga itu tidak sanggup memenuhi kebutuhan umat Katolik di Papua, maka 10 Oktober 1967 para uskup Papua mendirikan Akademi Teologi Katolik (ATK) untuk mendidik para pelayan Gereja baik awam maupun rohaniwan, untuk pelayanan terhadap masyarakat maupun terhadap umat Katolik sendiri.

Tahun 1973, ATK dirubah menjadi Sekolah Tinggi Teologi Katolik (STTK) yang diselenggarakan Yayasan Sekolah Tinggi Katolik untuk memperoleh pengakuan Pemerintah sebagai lembaga ilmiah. Tahun 1984, STTK diminta merubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur. Nama Fajar Timur dipilih dan direstui oleh para uskup berdasarkan sayembara di antara para mahasiswa-mahasiswi.

Ketua Panitia HUT STFT Fajar Timur Pastor Yohanes Jehuru OSA mengatakan, sebelumnya sudah dilaksanakan reuni 10 angkatan pertama 1969-1978. Para alumni dan civitas academica memusatkan kegiatan di Susteran Maranata, Waena, Abepura-Papua, 1-3 Oktober 2013. Dalam acara itu dilakukan rekoleksi, seminar serta pentas budaya, serta perlombaan olahraga, cerdas-cermat Kitab Suci dan Liturgi.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa mengikuti stage kegerejaan dan stage kemasyarakatan di beberapa kampung terpencil. Tema perayaan itu, kata Pastor Jehuru kepada PEN@ Indonesia, membuat semua orang, entah staf pengajar, sekretariat, alumni, para mahasiswa serta mahasiswi dan umat, berefleksi tentang pentingnya hidup doa. “Keseimbangan ilmu dan iman lebih khusus doa tidak bisa dipisahkan dengan calon imam yang akan merasul di tengah umat kecil sesuai perkembangan jaman.”

Tahun ini, STFT itu memiliki 222 mahasiswa dan lebih 800 alumni yang tersebar di Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Sorong-Manokwari, Keuskupan Agats serta Keuskupan Timika. STFT Fajar Timur sendiri telah menghasilkan dua uskup dan banyak imam dan para petugas pastoral di Tanah Papua.

Menurut alumni angkatan 1974, Bernardus Renwarin, para alumni berpikir akan membantu lembaga itu dalam bentuk pencarian dana. Tetapi dia sendiri ingin mengembalikan pikiran semua orang tentang esensi pelayanan kepada kaum lemah di Papua sesuai ide pendiri lembaga ini, memantapkan persaudaraan, dan mengajak keuskupan-keuskupan di sana untuk tidak berjalan sendiri, dan pola hunian asrama ditata lagi.***