IMG_0427
Theophilus Atmadi (kelima dari kanan) dan Wilhelmus Liem Welem Hamfri Elim Kusuma (keenam dari kanan) sebagai ketua dan wakil ketua Dominikan Awam Indonesia

Setelah melaksanakan retret pertama se-Indonesia, sebanyak 90 Dominikan Awam dari Jakarta, Pontianak, Surabaya dan Yogyakarta, sepakat membentuk satu koordinasi dan memilih Koordinator Dominikan Awam Indonesia.

Di akhir retret yang dilaksanakan di Rumah Retret Hening Griya, Baturaden, Purwokerto, dari tanggal 13 hingga 15 Oktober 2013, peserta melaksanakan pemilihan dengan pemungutan suara dan terpilih Theophilus A Atmadi dari Jakarta sebagai ketua, Wilhelmus Liem Welem Hamfri Elim Kusuma dari Surabaya sebagai wakil ketua, Theofilus Anda Halim dari Yogyakarta sebagai sekretaris dan Stephanus Suriaputra dari Jakarta sebagai bendahara.

Sementara itu, ditetapkan pula koordinator-koordinator baru untuk regio-regio yang ada, yakni Fransiskus Edy sebagai Koordinator Pontianak, Robertus Bellamirnus Adi Ismawan sebagai Koordinator Yogyakarta, Immanuel Iman Chandra sebagai Koordinator Jakarta, dan Angeline Yosephine Soegiharti sebagai Koordinator Surabaya.

Pimpinan koordinasi Jakarta yang hendak bertugas untuk masa bakti 2013-2016 itu sepakat juga menetapkan Pastor Andreas Kurniawan OP dari Surabaya, Pastor Robini Marianto OP dari Pontianak, dan Suster Elisabeth OP dari Yogyakarta untuk menjadi penasehat mereka.

Dua imam dan seorang suster itu secara bergantian memberi masukan dan membimbing para peserta dalam Retret Dominikan Awam Indonesia bertema “Dalam Kebersamaan Menemukan Jati Diri sebagai Dominikan Awam” itu.

Adrianus Sonny Dunawan dari Surabaya menyambut baik koordinasi Indonesia itu. “Retret sangat bagus, tetapi jangan hanya berhenti sampai di sini, jangan tidak ada kelanjutannya. Di sini saya dengan teman-teman sudah bisa berangkulan, nanti kalau pulang, pisah lagi, apalagi pertemuan nasional seperti ini tidak mungkin selalu dilakukan. Maka sebaiknya dibentuk sarana komunikasi antarpribadi hingga tingkat nasional. Dan, penetapan Koordinator Dominikan Awam Indonesia ini menjawab harapan saya,” katanya kepada PEN@ Indonesia.

Bahan-bahan yang dibicarakan bersama dalam sesi pertama adalah “Dominikan Awam adalah Pendalaman Hidup Kristiani,” sesi kedua “Aku Dipanggil untuk Dikasihi,” sesi ketiga “Hidup Bersemangatkan Laudere, Benedicere, Praedicare,” sesi keempat “Hidupku, Hidupmu dan Hidup Kita,” sesi kelima “Formasi Dasar Perutusan Kita,” sesi keenam “Pengalaman Formasi Setiap Jenjang,” sesi ketuju “Keselamatan Jiwa-Jiwa dalam 4 Pilar: Doa, Studi, Komunitas dan Kerasulan,” sesi kedepalan “Hidup Komunitas (Persaudaraan dalam Regio).

Selain ibadat pagi, sore dan malam, Doa Malaikat Tuhan dan meditasi, serta Misa harian, mereka juga mendoakan Doa Rosario dan Adorasi untuk Memandang dan Merasakan Kebaikan Allah, serta mendengarkan pengarahan dari Provinsial Suster-Suster Santo Dominikus Indonesia Suster Anna Marie OP dan cerita pengalaman dan kesan tentang Dominikan Awam oleh para mantan provinsial yakni Suster Agnes OP, Suster Assumpta OP, Suster Gemma OP, dan Suster Lusia Kusrini OP.

Menurut data terakhir, jumlah Dominikan Awam di Indonesia sebanyak 160, yang terdiri dari 43 di Pontianak, 39 di Jakarta, 26 di Yogyakarta dan 52 di Surabaya. Dari jumlah itu, yang aspiran berjumlah 8 orang, postulan 61 orang, novis 9 orang, kaul tahun pertama 12 orang, kaul tahun kedua 35 orang, dan kaul tahun ketiga 5 orang.***