Pesta Famili Mikhael

Para frater dilarang mengunakan telepon genggam guna menghindari penyalahgunaan alat komunikasi itu dan melihat apakah mereka bisa menahan diri dari penggunaannya. Praeses (pemimpin) seminari Seminari Tinggi Santo Mikhael, Pastor Herman Punda Panda, memberikan homili Misa Dies Natalis ke-22 Seminari Tinggi Santo Mikhael dan Pesta Famili (Keluarga) Santo Mikhael di kapel seminari itu 30 September 2013. “Inilah ujian menahan diri dan menghindari penyalahgunaan, sehingga kelak ketika menjadi imam sudah terbiasa dengan hal-hal meskipun kecil seperti itu,” kata Pastor Herman yang didampingi belasan imam pembina. Untuk bangkit dan bergerak menjadi baru, praeses  mengajak para frater untuk mulai dari hal-hal kecil dan sepele untuk selanjutnya melakukan hal-hal besar. “Mulailah dengan perkara-perkara kecil, maka kita bisa melakukan perkara-perkara lebih besar.” Di era globalisasi, imam itu mengingatkan, banyak tantangan dan godaan, seperti relativisme, hedonisme, konsumerisme, dan ketergantungan pada teknologi, membuat manusia “termasuk frater mudah terbuai, lupa diri dan tak jarang goyah dalam menjalani dan menjawab panggilan.” Tantangan dan godaan, menurut Pastor Herman, selalu ada, tak bisa dihindari , maka harus dihadapi. “Tinggal bagaimana cara masing-masing menghadapinya secara bijak seiring  pilihan kita untuk menapaki panggilan-Nya sebagai calon imam.” Di saat yang sama, Seminari Menengah Santo Rafael Kupang menggelar Dies Natalis ke-29 dan Pesta Famili Santo Rafael. Untuk mencapai puncak acara, kedua seminari telah melakukan berbagai kegiatan sebelumnya. Misa dengan tema “Keluarga yang bersekutu dalam Sabda” di Seminari Menengah Santo Rafael dipimpin oleh Praeses Pastor Yulius Bere dengan para imam pembina lain sebagai konselebran.***