Pope6

Bapa Suci menyebut para katekis sebagai “pilar” untuk pendidikan iman, dan mengingatkan mereka bahwa Paus juga adalah seorang katekis dan bahwa menjadi katekis harus “dimulai dengan Kristus.”

Paus Fransiskus berbicara dengan peserta Konferensi Katekese Internasional bertema “Katekis: Saksi Iman,” yang diselenggarakan untuk Tahun Iman. Ketika berbicara dengan 2000 katekis di hari Jumat 27 September 2013, Paus berterima kepada mereka untuk pelayanan mereka bagi Gereja.

Konferensi itu berlangsung di Roma tanggal 26-29 September 2013. Dua hari terakhir digunakan untuk ziarah para katekis. Peserta yang hadir dalam konferensi itu adalah ketua-ketua Komisi Katekese dari konferensi waligereja, ketua-ketua kantor kateketik nasional dan keuskupan, satu delegasi katekis dari setiap keuskupan dan wakil-wakil lembaga akademik yang berkaitan dengan studi katekese.

“Yang pertama harus dilakukan seorang murid adalah berada bersama Sang Guru: untuk mendengarkan dan belajar dari-Nya,” kata Paus Fransiskus seraya menyatakan bahwa momen-momen seperti itu bisa sulit ditemukan apalagi bagi mereka yang sudah menikah.

Meskipun demikian, Paus tetap menegaskan bahwa katekis perlu menemukan cara yang sesuai untuk bersama dengan Tuhan, dan meneladani Kristus dalam menjangkau orang lain.

“Ini pengalaman indah, dan sedikit paradoks,” kata Paus. “Kenapa? Karena orang yang menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya tidak menjadi pusat perhatian. Semakin kalian bersatu dengan Yesus dan menjadikan Dia sebagai pusat kehidupan, semakin Dia membuat kalian meninggalkan diri sendiri, desentralisasi sendiri, dan membuka diri bagi orang lain.” Itulah kehidupan dalam Kristus, kata Paus.

“Di hati para katekis, selalu hidup gerakan ‘sistolik-diastolik’ ini: persatuan dengan Yesus; perjumpaan dengan orang lain,” kata Paus seraya menambahkan, “Jika salah satu dari dua gerakan ini tidak lagi berdetak, maka kalian tidak hidup.”

Paus Fransiskus juga mengatakan kepada katekis untuk tidak takut “pergi bersama Kristus kepada orang-orang pinggiran” dan menegaskan bahwa “Yesus tidak mengatakan: pergi, lakukanlah. Tidak! Yesus berkata Pergilah, Aku menyertai kamu.”

“Inilah keindahan dan kekuatan kita: Jika kita pergi, jika kita pergi membawa Injil dengan cinta, dengan semangat kerasulan sejati, dengan kejujuran, Dia berjalan bersama kita, selalu di depan kita (mendahului) kita.”

Paus juga meminta para katekis untuk mengingat bahwa di saat mereka agak kuatir ketika hendak pergi ke tempat jauh, ke daerah yang sangat pelosok, “sesungguhnya Dia sudah berada di sana: Yesus menunggu kita di hati saudara itu, dalam dagingnya yang terluka, dalam hidupnya yang tertindas, dalam jiwanya yang tanpa iman … [Yesus] selalu pergi ke sana sebelum kita.”***