Bom di Pakistan

Paus Fransiskus pada Minggu, 22 September 2013, mencela ledakan di sebuah gereja di Pakistan sebagai tindakan “kebencian dan perang.” Dalam sambutan yang tak dipersiapkan di akhir perjalanan sehari ke Cagliari di Pulau Sardinia, Italia, Paus mengatakan, “Hari ini, di Pakistan, karena pilihan yang salah, keputusan kebencian dan perang, terjadi serangan yang mengakibatkan lebih dari 70 orang meninggal. Tidak bisa ada pilihan ini. Pilihan ini tak ada gunanya. Hanya jalan damai dapat membuat dunia lebih baik.” Radio Vatikan melaporkan, Paus kemudian berdoa bersama kerumunan orang di Vatikan bagi para korban. Dua serangan bom itu juga membuat 120 orang lebih terluka. Kelompok ekstrimis Sunni, Jundullah, yang memiliki hubungan dengan Taliban Pakistan, mengaku bertanggung jawab. Ahmad Marwat, yang menyatakan dirinya sebagai juru bicara kelompok itu, mengumumkan bahwa serangan-serangan terhadap umat non-Muslim akan berlanjut sampai AS menghentikan serangan pesawat tak berawak ke daerah-daerah suku negara itu.” Semua umat non-Muslim di Pakistan, kata Marwart kepada Associated Press lewat telepon, adalah target mereka, “selama Amerika gagal menghentikan serangan ke negara kami.” Duta Vatikan untuk Pakistan, Mgr Edgar Pena Parra, mengatakan kepada Radio Vatikan, “Kami belajar dari berita-berita sedih serangan-serangan terhadap Gereja Semua Orang Kudus di Peshawar. Tentu kita sangat sedih karena umat Kristen diserang lagi. Gereja yang diserang bukan gereja Katolik, sejauh yang saya tahu, tapi gereja itu punya hubungan erat dengan Gereja Katolik. Tapi ini tidak penting. Mereka itu umat Kristen dan adalah bagian dari minoritas kami. Ini kasus penderitaan lain yang menimpa Gereja Kristen kami di Pakistan.”***