IMG_1206

“Pemanasan global tidak pandang agama.” Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumarta Pr berbicara dalam Misa di Gua Maria Sendang Jati Penadaran, Gubug, Grobogan, Jawa Tengah, yang dirayakan dalam rangka penanaman bibit untuk penghijauan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang.

Menurut Mgr Pujasumarta, pemanasan global tidak pandang wilayah dan tidak pandang bulu. “Semuanya kalau terkena pemanasan global akan hancur. Apakah kita masih bisa menahan pemanasan global itu dengan cara-cara yang sederhana?” tanya uskup agung itu.

Menurut Mgr Pujasumarta, kalau menanam sekarang, masih ada harapan bahwa suatu ketika yang ditanam itu akan tumbuh dan berkembang menghasilkan buah-buah yang baik. “Tapi kalau kita tidak menanam, kita tidak akan bisa mengharapkan apa-apa,” tegas uskup agung seraya menambahkan bahwa yang sekarang mencintai benih memiliki masa depan.

Penanaman bibit yang dilakukan di sekitar Gua Maria Sendang Jati Penadaran tanggal 16 Agustus 2013 itu, menurut Mgr Pujasumarta, “meskipun sederhana merupakan ungkapan kita untuk mencintai bumi ini, supaya bumi ini juga memiliki masa depan.”

Nasib bumi, lanjut Mgr Pujasumarta, tergantung dari apa yang dibuat sekarang.  “Keadaan bumi itu juga akan menentukan nasib manusia. Kalau bumi hancur, ruang-ruang hancur, ruang-ruang kediaman manusia hancur, manusia sendiri juga akan hancur,” kata uskup agung di hadapan para mahasiswa, pengajar dan masyarakat Katolik Penadaran.

Juga diingatkan bahwa lingkungan menjadi rusak karena orang ingin menghabiskan segala-galanya. “Orang ingin makan segala-galanya. Kalau boleh dikatakan, orang ingin menjadi serigala bagi yang lain. Bukan menjadi keselamatan bagi yang lain,” kata Mgr Pujasumarta seraya mengajak umat untuk merawat bumi dan melestarikan keutuhan ciptaan untuk kesejahteraan bersama.

Mgr Pujasumarta mengajak umat bekerja sama dengan jemaat lebih luas dan masyarakat dari berbagai latar belakang, karena Tuhan menghendaki supaya kita menjadi penjaga satu sama lain. “Saya berharap agar umat Paroki Grobogan menjadi penjaga satu sama lain. Hidup rukun bersama dengan masyarakat sekitar. Siapa yang menjadi penjaga-penjaga yang paling utama bagi rumah kita? Bukan orang jauh dari kita tetapi tetangga-tetangga kita.”

Rektor Unika Soegijapranata Profesor Yohanes Budi Widianarko mengatakan, di kawasan yang terkesan gersang itu ia menemukan suaka alam yang indah berkat kerja sama semua pihak dan niat baik untuk melestarikan alam.

“Salah satu fokus dari Unika Soegijapranata adalah permukiman berkelanjutan, permukiman yang ramah lingkungan. Dengan tanpa ragu-ragu, kami mengirim mahasiswa kami untuk dititipkan kepada warga di sini supaya mereka belajar,” kata Profesor Budi seraya meminta mahasiswa belajar dari warga masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.***