Peresmian Pikat2

Kevikepan Sulawesi Tenggara (Sultra) dari Keuskupan Agung Makassar kini memiliki rumah Pengembangan Iman Katolik (Pikat) lengkap dengan kapel, biara Claretian dan fasilitas lain, yang dibangun di atas tanah seluas 17.400 meter persegi yang disumbangkan oleh satu keluarga Katolik.

Misa Peresmian dan Pemberkatan Pikat Maria Immaculata, 15 Agustus 2013, dipimpin Uskup Agung Makassar Mgr John Liku Ada’ Pr, didampingi lima konselebran. Misa itu dihadiri para suster Claretian yang mengelola rumah itu dan ratusan umat paroki Santo Clemens dan Fransiskus Xaverius, Kendari.

Seusai Misa, Mgr John Liku Ada’ mengatakan kepada PEN@ Indonesia bahwa kehadiran kompleks dan rumah Pikat itu bertujuan untuk mengembangkan iman umat. Rumah Pikat yang merupakan “mimpi lama umat kini terwujud berkat kebaikan hati Pak Chandra sekeluarga.”

Maka, kata uskup agung, “dari relung hati yang dalam, dan atas nama umat, saya ucapkan limpah terima kasih dan saya doakan agar Tuhan membalas kebaikan mereka dan mendapat berkat dari Tuhan.” Keluarga Chandra, menurut uskup, “merupakan contoh keluarga yang menghayati imannya.”

Mgr Liku Ada’ menegaskan ucapan terima kasih itu dalam sambutannya. “Atas nama Keuskupan Agung Makassar dan Kevikepan Sultra saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada keluarga Chandra dan terima kasih kepada donatur. Terima kasih kepada pemerintah dan semua yang mendukung terwujudnya cita-cita ini. Selamat datang para suster (Claretian) dan terima kasih atas kesediaan Anda untuk tumbuh bersama di tempat ini.”

Kepada PEN@ Indonesia, Chandra mengatakan, keinginan memberikan lahan bagi pengembangan iman di Kevikepan Sultra dimulai kurang lebih tiga tahun sebelumnya didorong oleh kondisi Gereja, khususnya kurangnya imam dan biarawan-biarawati yang berkarya untuk pengembangan iman di kevikepan itu.

“Melihat kondisi Gereja itu, timbul kerinduan kami supaya ada rumah retret. Kami mulai berdiskusi dengan pihak Gereja. Kami bersedia menyumbangkan tanah, membangun fasilitas, asal ada tarekat yang akan mengelola,” katanya.

Dukungan pastor paroki serta vikep dan persetujuan anak-anak membuat Chandra dan istrinya bersuka cita, karena “kami dijadikan saluran berkat.” Dia merasa, Tuhan sudah begitu baik dengan keluarganya, maka meskipun sedikit, keluarga itu harus berbuat saat melihat kondisi Gereja seperti itu. “Kami sebagai alat. Kalau Tuhan tidak mengetuk hati kami, mengarahkan kami, ini tidak akan jadi,” lanjutnya.

Dengan peresmian itu, kata Chandra, keluarga menyerahkan semuanya kepada kevikepan dan Suster-Suster Claretian. Namun, lanjutnya, “kami akan menyediakan fasilitas kompleks itu.”

Kongregasi Claretian resmi menempati dan mengelola Pikat Maria Immaculata itu sejak 16 Agustus 2013. Superior Provinsi Asia, Suster Asunta Hori RMI, dalam sambutannya yang diterjemahkan oleh Yulius Pasolon mengatakan, “Kongregasi Claretian gembira menerima dan mengelola rumah Pikat itu.”

Suster Inocencia Rodrigo RMI mengatakan kepada PEN@ Indonesia, atas nama kongregasi dia berterima kasih kepada Uskup Agung, kevikepan, pemerintah dan Chandra yang menerima kehadiran mereka di situ.  Keluarga Chandra, katanya, sangat dermawan “karena iman mereka.”

Suster Inoncencia mengatakan, mereka berada di tempat itu karena “Kami mendengar dan mengamati ada kehausan untuk mengenal Tuhan dan menumbuhkan spiritual melalui rumah retret, rekoleksi dan formasi.”

Kendari adalah tempat karya misioner pertama para suster Claretian di Indonesia. Saat ini empat suster berkarya mengelola Pikat Maria Immaculata. Kevikepan Sultra memiliki 7 paroki dengan 13.500 umat berdasarkan sensus keuskupan tahun 2012.***