Beasiswa1

Keluarga Dominikan Indonesia bukan hanya memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang belajar di Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC) Surabaya, tapi membina mereka dengan pertemuan berkala untuk bersyukur.

Sebanyak 32 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai wilayah di Keuskupan Surabaya dan dari berbagai latar agama, yang menerima beasiswa hasil kerja sama Missio, APTIK, UKDC dan Keluarga Dominikan Indonesia, karena menghadapi halangan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi, hadir dalam rekoleksi tahunan yang dilaksanakan di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, 21-23 Agustus 2013.

Dengan gemblengan dari Ambrosius Bata dan Agustina, peserta rekoleksi belajar mendengarkan teman-temannya yang sharing tentang perjalanan hidup, impian, kerja keras dan daya tahan mereka, belajar mempertanggungjawabkan semua yang diterima secara gratis dari Tuhan khususnya waktu, belajar berani bercita-cita, dan belajar bersyukur.

“Mereka diajarkan tentang the power of gratitute (kekuatan syukur) dan mengapa perlu bersyukur untuk hal-hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Selain itu mereka diajak mengolah dan menggunakan segala anugerah yang mereka terima bukan saja untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain,” kata Ambrosius kepada PEN@ Indonesia.

Peserta juga mendengarkan masukan dari Rektor UKDC Pastor Yustinus Budi Hermanto Pr dan masukan dari seorang imam Dominikan yang menjadi moderator Dominikan Awam Indonesia dan Kepala Paroki Redemptor Mundi Surabaya, Pastor Andreas Kurniawan OP (Pastor Andrei).

Diingatkan bahwa standar IPK, serta komitmen dan kewajiban yang merupakan kesepakatan UKDC dan Dominikan Awam, termasuk rekoleksi itu, “bukanlah pemaksaan melainkan harus dilihat  sebagai peta untuk mencapai cita-cita.”

Maka, Pastor Andrei minta agar mereka saling bekerja sama, misalnya mengingatkan teman yang malas kuliah. “Perlu kerja sama di antara kalian sendiri dan di antara kalian dengan Keluarga Dominikan Indonesia.” Beasiswa Dominikan baru dimulai diberikan tahun ajaran 2012-2013.

Penerima beasiswa juga diingatkan untuk menjalani Empat Pilar Beasiswa Dominikan, yakni doa, belajar, keluarga, dan karya. “Belajar dan berdoa setiap hari sesuai agama masing-masing bertujuan agar kita mengenal diri sendiri, sedangkan keluarga dan karya adalah tempat pelayanan dan pengabdian kita.”

Pastor Andrei mengingatkan mereka untuk tidak menjauhkan diri dari Allah atau mempertanyakan keberadaan Allah, melainkan semakin dekat dengan Allah yang begitu baik dengan mereka. Mereka juga  diminta untuk saling mencintai, peduli dan berkomunikasi, termasuk dengan adik-adik angkatan mereka.

Rekoleksi itu menetapkan pertemuan sekali dalam dua minggu untuk “menambah nutrisi” mereka dalam mencapai masa depan. Juga ditetapkan bahwa setiap penerima beasiswa harus membuat dua tulisan baik ilmiah atau berita di setiap semester. Kelas untuk penulisan, termasuk pendidikan jurnalistik pun akan disiapkan. Ketetapan lain adalah menjalankan bakti sosial dan kerja praktek.

Ketua Dominikan Awam Surabaya Welem Wilhelmus mensharingkan pengalaman berkorbannya dengan tidak menghadiri pertemuan berkaitan dengan usahanya di Makassar tapi menghadiri rekoleksi itu sebagai tanggapan terhadap komitmennya kepada penerima beasiswa, serta tanggung jawabnya terhadap donatur dan Keluarga Dominikan.

“Kita tak perlu takut, kita harus berani dan bertanggung jawab,” kata Welem seraya mengajak penerima beasiswa untuk tidak minder tapi membuat hal-hal yang dirasa kecil sebagai kekuatan. “Kalian harus bangga menerima beasiswa. Latar belakang atau peristiwa lalu janganlah menjadi momok,” katanya..

Welem mendorong para penerima beasiswa untuk tidak takut berbuat salah. Sebagai arsitek, kini dia  memiliki juga perusahaan yang membentuk orang yang tidak sekolah menjadi pekerja di Hong Kong dan Taiwan, padahal “saat kecil, saya berjualan ubi dan pisang sembari sekolah!”***