IMG_0422 (1)

“Bersatu dalam Perbedaan” adalah ungkapan cita-cita dan harapan pimpinan Panti Asuhan Pondok si Boncel, Jakarta, Suster Philomena OP, dan sehari sebelum HUT ke-68 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2013, cita-cita itu diangkat menjadi tema Pesta Santo Dominikus dan acara halalbihalal bersama warga sekitar panti itu.

Suster Hermine OP dari Cirebon yang menghadiri acara itu mengatakan kepada PEN@ Indonesia bahwa persatuan dalam perbedaan dengan semangat kekeluargaan sungguh nampak dalam acara yang dilaksanakan di Aula TK Boncel itu.

“Bagi saya, tema yang dipilih itu tidak hanya berupa slogan, tapi sungguh nampak dalam suasana yang diciptakan. Banyak tamu mengenakan peci serta jilbab sedangkan para suster menggunakan baju biara,” kata Suster Hermine.

Acara di taman kanak-kanak yang dijalankan oleh para suster Dominikan (OP) itu, lanjut Suster Hermine, menunjukkan kesatuan dengan penampilan kosidahan yang disewa dari warga RT setempat serta tiga lagu oleh kelompok kosidahan ibu-ibu.

Makanan yang disajikan juga sangat beragam, dari puding, es krim, kambing guling, bakso, soto, sate dan banyak lainnya. “Sungguh suasana pesta yang sangat meriah. Selain warga Muslim, warga lingkungan Katolik tempat biara suster Dominikan itu berada juga diundang,” kata suster. Di saat pulang para tamu dan anak-anak masing-masing mendapat satu kotak kue, lanjut suster.

Acara kebersamaan seperti itu, menurut Suster Philomena OP, sudah beberapa kali diadakan oleh Panti Asuhan Pondok si Boncel, meskipun bentuknya berbeda. Bahkan, panti itu sering melakukan buka puasa bersama dengan menghadirkan ustad untuk memberi siraman rohani.

Menurut keterangan Suster Philomena, dalam bulan puasa, 23 pekerja beragama Islam di panti itu mendapat perlakuan khusus dan mendapat perhatian dalam menjalankan ibadah puasa.

Dalam pesta yang mendapat dukungan dari donatur panti itu, para karyawan Muslim dilibatkan. Karyawan putra dengan peci dan baju baru menjadi penerima tamu, dan dengan senyum menyambut  tamu-tamu dengan aneka busana, ada yang berjilbab, ada yang berpeci dan ada yang mengenakan pakaian biarawati.

Dalam sambutannya Suster Philomena mengatakan bahwa warga dengan berbagai keberagaman di panti itu dan juga di lingkungan sekitarnya perlu bersatu memperhatikan anak-anak panti yang nasibnya kurang beruntung dan perlu pendampingan khusus.

“Kami mengajak bapak, ibu, saudara dan saudari untuk ambil bagian di dalam memberi kasih kepada mereka. Mereka adalah masa depan bangsa dan negara dan mereka berhak memperoleh kehidupan yang baik seperti anak-anak lain,” kata Suster Philomena.***