Coptic Catholic Patriarch Ibrahim Isaac Sedrak distributes Communion in this picture dated March 18, 2013.- CNS photo by James Marton

                                           CNS photo/James Martone

Protes keras di Mesir yang dipicu oleh pelengseran mantan presiden Muhammad Mursi 3 Juli 2013 semakin meningkat, dan minoritas Kristen menjadi target utama serangan-serangan yang dilakukan pendukung Ikhwanul Muslimin milik mantan presiden itu.

Serangan-serangan terhadap umat Kristen meningkat beberapa hari terakhir. Menurut dugaan hal itu merupakan pembalasan atas pembunuhan massal pekan lalu atas ratusan demonstran Ikhwanul Muslimin yang dilakukan militer yang juga melengserkan  Mursi dari kursi presiden. Sejumlah gereja dan biara telah dibakar, dijarah, atau dihancurkan oleh pendukung Mursi. Sementara itu, jumlah korban tewas terus meningkat akibat serangan-serangan ini.

Menanggapi hal itu, demikian Radio Vatikan 21 Agustus 2013, dua hari sebelumnya Patriark Katolik Koptik Ibrahim Isaac Sedrak merilis pernyataan yang menguraikan krisis di Mesir saat ini. “Dengan pedih, tetapi juga dengan harapan, Gereja Katolik di Mesir sedang mengikuti apa yang sedang dialami negara kami: serangan teroris, pembunuhan dan pembakaran gereja, sekolah dan lembaga-lembaga negara.”

Oleh karena itu, lanjut pernyataan Patriark Alexandria dari Gereja Katolik Koptik itu, “karena cinta akan negara kami dan karena solider dengan semua pecinta Mesir, umat Kristen dan Muslim, kami sedang berupaya melakukan yang terbaik untuk berkomunikasi dengan penuh persahabatan dengan organisasi-organisasi di seluruh dunia agar mereka tahu dengan jelas realitas peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara kami.”

Presiden Dewan Para Uskup dan Patriark Katolik di Mesir itu mengungkapkan penghargaannya terhadap “bangsa-bangsa yang mau memahami dasar dari peristiwa-peristiwa itu seraya dengan tegas menolak setiap usaha campur tangan dalam urusan internal Mesir atau mempengaruhi keputusan kedaulatannya, apa pun tujuannya.” Akhirnya, ia menyampaikan “belasungkawa untuk semua keluarga dan kerabat para korban. Kami memohon agar Tuhan menyembuhkan semua yang terluka.”

Berbicara dengan Radio Vatikan, ketua Asosiasi Koptik Amerika Serikat Michael Meunier memberikan beberapa konteks situasi di negara itu. “Mesir baru saja mulai kembali ke langka perdamaian dan demokrasi,” katanya. “Di bawah pemerintahan Ikhwanul Muslimin, tidak ada perdamaian atau demokrasi bagi mayoritas orang Mesir.”

Bertentangan dengan beberapa laporan oleh media Barat, Meunier mengatakan, pemerintah Mursi bukanlah terpilih secara demokratis. Sebaliknya, partai Ikhwanul Muslimin, katanya, menang melalui pelanggaran dalam proses pemilu, dan tidak mencerminkan mayoritas orang Mesir. “Apa yang terjadi sekarang di Mesir bukan merupakan pertarungan antara dua gladiator. Sebenarnya Ikhwanul Muslimin sedang memutuskan apakah memerintah Mesir atau membakar Mesir.”

Meunier melanjutkan, “Apa yang sedang terjadi pada orang-orang Kristen di Mesir adalah harga yang harus kami bayar, dan semua orang lain harus bayar, demi kebebasan jangka panjang. Saya tahu, semua orang bertanya-tanya dan kuatir [apakah] akan ada kebebasan di bawah kekuasaan militer, tapi apa yang kami tahu, dan apa yang kami alami dalam pemerintahan Ikhwanul Muslimin di Mesir selama lebih dari setahun adalah tidak ada kebebasan.”***