central_african_republic_rebels_agree_talks_jan_2_2013_5

Badan bantuan Katolik, Caritas, melaporkan meningkatnya kekerasan di Republik Afrika Tengah. Bulan Maret 2013, kelompok pemberontak, Seleka, berpawai di ibukota Bangui dan menggulingkan mantan presiden Francois Bozize. Menurut Radio Vatikan, 14 Agustus 2013, Pastor Anastasio Roggero, misionaris Karmelit yang bekerja di republik itu selama beberapa dekade, masih menjalin hubungan dengan Gereja Katolik di sana, khususnya dengan direktur regional Caritas, Pastor Aurelio Gazzera. Pastor Anastasio menceritakan tentang misi pencari fakta yang diorganisir Caritas pekan lalu, ke lokasi pembantaian di dekat sebuah sungai di barat laut negara itu. “Di sungai itulah para pemberontak melempar jenazah orang yang dibunuh …” UNHCR menggambarkan situasi di republik itu sebagai “krisis yang paling diabaikan di dunia.” Ketika ditanya mengapa masyarakat internasional tidak berindak apa-apa, Pastor Aurelio menjawab, sulit menceritakannya. “Jelas, semakin sulit campur tangan, dan situasi kemungkinan akan lebih buruk. Tidak ada otoritas, sekolah masih ditutup. Masyarakat internasional berjanji mengirim 3500 orang, tapi kapan? Mereka tidak buat apa-apa. Hanya Gereja yang dekat dengan masyarakat.” Menghadapi kekerasan yang meruncing, Uskup Agung Bangui menulis surat terbuka kepada umat Katolik di sana dan meminta agar pimpinan Katolik, Protestan dan Islam bekerja sama membangun kembali perdamaian dan rekonsiliasi di negara yang dilanda perang itu.