Gerbang Hati Kudus Yesus

Dulu, masyarakat asli di Merauke, Marind Anim Ha, hidup mengayau dan menganut paham animisme. Perubahan yang mereka alami saat ini adalah hasil karya Misionaris MSC, yang pertama kali menginjakkan kaki di Merauke tanggal 14 Agustus 1905.

Untuk menghormati kaya para misionaris MSC, Pemda Merauke menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Merauke tentang Merauke Sebagai Gerbang Hati Kudus Yesus Nomor 1 Tahun 2011, yang disosialisasikan di Gedung Vertenten Sai, Kompleks Biara Kongregasi Hati Kudus Yesus (MSC), di Merauke, tanggal 7 Agustus 2013.

Sebanyak 150 orang lebih yang berasal dari berbagai kalangan Katolik mendengarkan sosialisasi yang dilengkapi saksi sejarah, antara lain para imam, Pemuda Katolik, pegawai negeri beragama Katolik, Keluarga Mahasiswa Katolik, dan biarawati.

Staf Bagian Hukum Setda Kabupaten Merauke Yoseph Bladib Gebze mengatakan, perda itu memuat segala sesuatu menyangkut pemeliharaan situs agama Katolik yang bertujuan “untuk menghormati dan menghargai karya misionaris Katolik dari MSC, para guru agama atau katekis dalam penyebaran agama Katolik yang tidak terlepas dari sejarah berdirinya kota Merauke.”

Tanggal 14 Agustus 1905, adalah “titik pangkal terbukanya Papua Selatan, khususnya Merauke, untuk orang keluar masuk. Saat itulah misi Katolik dan Injil disebarkan,” kata Yoseph Gebze seraya mengungkap catatan bahwa agama Katoliklah yang pertama dianut oleh suku Marind Anim Ha.

Misionaris awam dan MSC dengan keterbatasannya membawa Hati Kudus Yesus ke Merauke. “Cara hidup, perkembangan dan peningkatan kualitas hidup suku Marind Anim mulai terasa karena misionaris mengajarkan kebenaran religius Katolik. Ternyata, dalam rentang waktu begitu panjang, penduduk asli dan pendatang hidup berdampingan tanpa konflik suku, ras, antargolongan hingga sekarang,” Ketua Dewan Gereja Katolik Paroki Santa Theresia Buti menjelaskan alasan penetapan perda itu.

Yoseph Gebze menambahkan, pemda merasa kehadiran misionaris MSC telah memberikan nilai tambah yang sangat berarti lewat nilai-nilai kasih cerminan Hati Kudus Yesus demi memperkokoh keseimbangan hidup antara aspek jasmaniah dan rohaniah. Bahkan, orang Marind Anim tidak lagi menggantungkan hidupnya dari kemurahan Tuhan dengan tersedianya kebutuhan sehari-hari dari alam mereka.

Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke, Daniel Pauta, ide penerbitan perda mengemuka tahun 2005 saat orang Merauke memperingati 100 tahun masuknya Gereja Katolik dan jasa misionaris MSC yang membawa pembaharuan peradaban. “Kalau dulu mereka tak datang, kita tak menikmati perkembangan sekarang,” katanya.

Pemda  mengundang tokoh Katolik untuk mendiskusikan jasa misionaris dan tahun 2009 muncullah tawaran membangun Patung Gerbang Hati Kudus Yesus. Patung di Bandara Merauke, yang dibangun melewati berbagai kendala lokasi dan tingginya, diberkati dan diresmikan 14 Agustus 2011.

Daniel bercerita, Pemda Merauke dan Gereja Katolik saat itu juga melakukan sosialisasi. Dua instansi itu berpatokan bahwa tidak ada kepentingan lain, selain kenangan akan jasa misionaris yang membawa perubahan bagi masyarakat Marind dari sebelumnya mengayau dan animisme.

Pemda dan Gereja Katolik merasa, Gerbang Hati Kudus Yesus tidak cukup hanya monumen, tapi harus dituangkan menjadi peraturan mengikat. Proses pembuatan perda mengalami perdebatan alot. “Perda ini terpendek, hanya 10 pasal, dengan harapan bisa mengakomodir seluruh kepentingan umat Katolik dan semua manusia Merauke,” katanya.

Perda itu menetapkan 14 Agustus sebagai libur resmi bagi semua orang Merauke untuk beribadat.

Uskup Agung Merauke Mgr Nicolaus Adi Saputra MSC mengungkapkan, “Hati Kudus Yesus harus menggema di hati masing-masing orang di Merauke tanpa sekat.” Orang Katolik, jelas uskup, harus bekerja dengan lintas iman dan budaya, karena Allah telah memberikan hati-Nya kepada semua orang. “Dari Allah, Yesus rela turun ke dunia untuk menebus dosa manusia, maka pantas semua orang memiliki hati seperti Hati Kudus Yesus.”***