Silaturahmi di Ponpes Al Islah Tembalang Semarang

“Pada Hari Raya ini, marilah kita bersedia menjadi berkah satu sama lain, dan perkenankanlah saya mohon maaf lahir batin, minal aidin walfaidzin,” tulis Mgr Johannes Pujasumarta dalam website Duc In Altum, 8 Agustus 2013, dalam rangka Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1434 Hijriah.

Mewakili umat Katolik di keuskupannya, Uskup Agung Semarang itu mengucapkan selamat kepada umat Muslim, “Selamat Hari Raya, dengan iringan doa, agar kerahiman Allah, Pengasih dan Penyayang , memberdayakan kita untuk membangun masa depan yang lebih baik.”

Mgr Pujasumarta yang juga Sekretaris Jenderal KWI itu berharap, “semoga pengalaman kita akan Allah yang adalah Kasih menjadi dasar bagi kita untuk membangun persaudaraan sejati, mengembangkan hidup bertetangga yang peduli, dan melestarikan kehidupan alam semesta ini.”

Selain mengucapkan selamat lewat Duc in Altum , pemimpin Keuskupan Agung Semarang (KAS) itu juga melakukan silaturahmi kepada Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, dan Wagub Rustriningsih, bersama jajaran Muspida di Wisma Perdamaian, Semarang.

Tepat pukul 09.00 di hari Lebaran, tanggal 8 Agustus 2013, Mgr Pujasumarta bersama Vikjen Pastor FX Sukendar WS Pr, Sekretaris Pastor Ignatius Triatmoko MSF, dan Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KAS Pastor Aloys Budi Purnomo Pr meninggalkan Wisma Uskup KAS dan berjalan kaki menuju Wisma Perdamaian.

Dari wisma itu, Mgr Pujasumarta dan beberapa imam itu serta Ekonom Pastor Fanciscus Asisi Sugiarta SJ menuju kediaman Kiai Budi Harjono, Pengasuh Ponpes Al Islah, Tembalang Semarang. “Dalam obrolan silaturahmi, tema pembicaraan kami seputar tarian sufi yang dikembangkan oleh Kiai Budi Harjono. Pak Kiai selalu bercerita tentang mimpinya mengubah semak duri menjadi mawar melalui kasih dalam hidup bersama,” kata Pastor Budi Purnomo.

“Kau dan aku adalah sama dan satu hanya berbeda wadah dan wujud. Kita berada dalam satu cahaya. Cinta membuat hidup tetap awet muda!” Kalimat-kalimat puitis sufistik itu tak hanya terucap tetapi tertulis pada buku kumpulan puisi sufistik Kiai Budi Harjono yang dibagikan kepada uskup dan imam-imam itu.

Keramahan penuh persaudaraan terjalin, tulis Pastor Budi dalam tulisannya yang dibagi ke berbagai milis. “Sebelum kami pulang, Pak Kiai memanggil Said, salah satu dari sembilan anaknya, untuk bermain gitar dan menyanyikan sebuah lagu bertema cinta kemanusiaan. Said bernyanyi penuh penghayatan dengan iringan gitar akustik yang dipetik secara cantik!”

Dari Ponpes Al Islah, rombongan menuju Ponpes Edi Mancoro di Salatiga untuk bersilaturahmi dengan KH Mahfudz. Dalam silaturahmi, kata Pastor Budi, KH Mahfudz mengatakan sesuatu yang membuat mereka tertawa, “Gereja ki kaya negara! Romone pindhah-pindhah kena mutasi. Beda karo Kiai. Nek Kiai pathok bangkrong…” (Gereja itu seperti negara. Pastornya dimutasi dalam waktu tertentu. Lain dengan kiai, selamanya di satu tempat yang sama).

Ketika memohon pamit, kata imam itu, Mgr Pujasumarta mengatakan, “Kula namung nyuwun pandonga pangestu panjenengan sadoyo, supados pinaringan sehat lan umur panjang. Sangsaya tuwa ki penyakite akeh, yen diobati mung ngaleh, ora mari-mari…” (Saya hanya mohon doa saja dari Anda semua semoga tetap sehat dan diberi umur panjang. Semakin tua semakin banyak penyakit. Penyakit diobati ndak sembuh-sembuh, hanya pindah tempat saja).

Pastor Budi menjelaskan, dalam setiap perhentian, mulai dari Wisma Perdamaian, Al Islah dan rumah KH Mahfudz, Mgr Pujasumarta menyerahkan Pesan Idul Fitri 1434 H yang ditulis Paus Fransiskus. “Saya sudah persiapkan itu dengan format khusus. Dengan demikian, pesan yang ditulis dan disampaikan oleh Paus Fransiskus sampai sasaran, sekurang-kurangnya untuk tokoh tertentu di Jawa Tengah,” katanya.***