Ten Days For Peace

Bom Atom pertama tanggal 6 Agustus 1945 di Hiroshima adalah “luka mengerikan yang diderita” orang-orang Jepang dan seluruh umat manusia. Saya merasa terhormat berada bersama kalian untuk memperingati 68 tahun pemboman itu dan ikut serta dalam Ten Days for Peace (Sepuluh Hari untuk Perdamaian).

Ketua Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, Kardinal Peter Turkson berbicara dalam sebuah pertemuan para pemimpin antaragama di Jepang yang dilakukan di pagi hari tanggal 6 Agustus 2013, demikian Radio Vatikan.

Ten Days for Peace (6-15 Agustus 2013) dirayakan di setiap keuskupan di Jepang guna merayakan ulang tahun ke-10 pemboman nuklir atas Hiroshima dan Nagasaki, yang berlangsung tanggal 6 dan 9 Agustus tahun 1945.

Peserta pertemuan adalah wakil-wakil tradisi-tradisi keagamaan dan spiritual besar di Asia yakni Buddha dan Shinto, Kristen (Injili/Reformasi/Protestan) dan Katolik, serta sekularisme global kontemporer.

Menurut iman Katolik, kata kardinal itu, Tuhan menciptakan manusia untuk hidup, untuk kebebasan dan untuk kebahagiaan. “Namun takdir kita di bumi, banyak kali nampaknya terdiri dari penderitaan, dan kita tergoda untuk menjalaninya sebagai hukuman, sebagai nasib buruk. Penderitaan yang tidak masuk akal sedemikian akhirnya bisa mengalahkan kita.”

Di tahun 1981, Beato Yohanes Paulus II menamai penderitaan akibat perang, khususnya Bom Atom, itu sebagai buah dari dosa manusia dan hasil kerja kejahatan. Paus Fransiskus, lanjut Kardinal Turkson, memberikan klarifikasi yang sama dengan mengatakan, “Kepemilikan tenaga atom dapat menyebabkan kehancuran umat manusia. Saat orang menjadi sombong, dia menciptakan monster yang bisa bertindak di luar kontrol.”

Kardinal mengakui bahwa pribadi-pribadi dan masyarakat selalu tergoda oleh nafsu keserakahan dan kebencian. Meskipun demikian, lanjutnya, “tidak harus menyerah.” Kardinal mengajak peserta untuk “tidak menjauhi mereka yang dirampas haknya, tetapi memenuhi kebutuhan mereka; tidak menghindari orang yang menderita, tetapi menemani mereka; tidak lari dari masalah hari ini, tapi bersama-sama berani mengatasi situasi dan struktur sosial yang menyebabkan ketidakadilan dan konflik.”

Hal itu disampaikannya, karena menurut Paus Fransiskus, “tidak ada upaya ‘membangun perdamaian’ akan mampu bertahan.” Selain itu menurut Paus, “kerukunan dan kebahagiaan tidak akan dapat dicapai dalam masyarakat yang mengabaikan, memarginalkan atau mengecualikan satu bagian dari dirinya sendiri.”

Membangun perdamaian sejati adalah mencakup dan memadukan, kata Kardinal Turkson seraya mengajak semua yang hadir dalam pertemuan itu untuk mengenang Hiroshima dengan bekerjasama dalam solidaritas untuk membangun perdamaian sejati.

Tanggal 23 Juni 2013, Uskup Agung Tokyo Mgr Peter Takeo Okada yang juga ketua Konferensi Waligereja Jepang mengeluarkan komentar untuk menghadapi Ten Days for Peace. “Karena saya percaya, solidaritas terhadap masyarakat Okinawa sangatlah penting.” Masyarakat Okinawa masih menderita diskriminasi dan pengabaian.

Sebagai umat beragama dan warga negara, kata uskup agung itu, “kita harus merefleksikan dalam politik keyakinan kita tentang jalan menuju perdamaian,” serta “mempelajari ajaran Gereja, berdoa secara teratur dan menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara sesuai hati nurani.”***