Gamelan

Keberadaan 29 TK, 45 SD dan 6 SMP Kanisius DIY beserta dinamika perjuangannya diharapkan mampu menjadi tetes-tetes embun yang tak hanya memantulkan pancaran matahari, tapi juga menyirami, menyegarkan dan menghijaukan kembali rerumputan Bhinneka Tunggal Ika kehidupan Nusantara.

Direktur Yayasan Kanisius Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Pastor Agustinus Mintara Sufiyanta SJ mengatakan hal itu saat Pameran Foto dan Gelar Budaya Anak-Anak Kanisius DIY 2013 yang digelar oleh sekolah-sekolah Kanisius milik Keuskupan Agung Semarang (KAS) yang pengelolaannya dipercayakan kepada Serikat Yesus (SJ).

Pameran foto dan gelar budaya itu merupakan ungkapan syukur atas HUT ke-95 Sekolah-Sekolah Kanisius di Yogyakarta yang dirayakan tanggal 4 hingga 7 Juli 2013. Foto-foto yang dipamerkan adalah profil sekolah Kanisius DIY yang dipotret tahun 2013. Para siswa-siswi dan guru serta karyawan dari 80 sekolah Kanisius DIY terlibat dalam acara gelar budaya.

Karena merupakan milik KAS, “maka sekolah-sekolah Kanisius pada hakikatnya adalah milik umat Kristiani KAS. Hidup dan matinya, kecemasan dan harapannya, surut dan berkembangnya, pedih dan gembiranya sekolah-sekolah Kanisius, menjadi kepedulian dan tanggung jawab umat Allah KAS,” tegas Pastor Mintara.

Lahirnya Sekolah Kanisius tak bisa lepas dari peran Pastor Van Lith SJ. Awal mulanya, imam itu prihatin melihat keterbelakangan pendidikan masyarakat Jawa yang waktu itu kurang mendapat perhatian dari pemerintah Hindia Belanda. Maka, Pastor van Lith berniat mendirikan sekolah Katolik.

Tanggal 31 Agustus 1918 di Muntilan didirikan “Canisius Vereniging” atau Perkumpulan Kanisius yang ditindaklanjuti dengan membuka 100 sekolah Katolik yang tersebar di Muntilan dan sekitarnya, Yogyakarta, Klaten, Surakarta, Magelang dan Semarang.

Saat didirikan, Yayasan Kanisius menjadi milik Vikariat Apostolik Batavia dan dipercayakan kepada SJ. Namun, tahun 1940, yayasan itu diserahterimakan kepada Vikariat Apostolik Semarang dan tetap dipercayakan kepada SJ.

Dalam perayaan itu, Pastor Mintara bertanya, “Jika Romo Van Lith, yang adalah orang Belanda, mau memperhatikan pendidikan dan masa depan orang pribumi Jawa, mau memperhatikan pertumbuhan hidup beriman umat di Vikariat Semarang, mosok kita sendiri tidak memberikan hati dan membiarkannya mati?”

Pertanyaan berikut, “Jika Romo Van Lith tekun dan setia menyiapkan tanah subur dan menaburkan benih-benih terbaik bagi sekolah-sekolah Kanisius, lalu memelihara benih-benih jiwa anak-anak asuhnya dengan sentuhan kasih, mosok kita sendiri tidak memberikan sentuhan kasih untuk anak-anak yang kini belajar di Kanisius?”

Imam itu yakin, jika Romo Van Lith masih hidup dan menjadi guru di sekolah Kanisius, sangatlah mungkin beliau akan membangun komunitas sekolah yang mencintai budaya, menjalin dialog dan kerukunan antarumat beragama, mencintai anak-anak dari keluarga miskin seraya terus menyerukan antikeserakahan, serta mengajak semua yang sekolah di Kanisius untuk mencintai lingkungan hidup Indonesia.

Oleh karena itu, Pastor Mintara menegaskan bahwa api semangat Romo Van Lith yang berkobar-kobar pantas dan layak untuk dijaga agar tetap menyala di tengah tiupan angin dan badai zaman sekarang.

“Apapun yang dilihat oleh Mgr Soegijapranata dan Romo Van Lith di surga sana, dan apapun yang saat ini sedang dirasakan oleh umat KAS terhadap pendidikan di sekolah-sekolah Katolik, kami ingin hari ini mulai menyatukan hati dan tekad untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia melalui pendidikan di sekolah-sekolah Kanisius,” harap imam itu.***