Tjipta

 

Profesor Doktor Tjipta Lesmana MA tidak mau politik praktis, tapi dia minta aktivis Komisi Kerawam dan anggota ormas di Keuskupan Bandung untuk tidak patah semangat, tapi terus berkomunikasi bahkan membujuk agar para imam sadar bahwa umat harus ikut perpolitikan sehingga mereka mengerti dan memahaminya.

Pakar komunikasi dan pengamat politik Indonesia yang juga dosen dan kolumnis itu berbicara dalam “Pembekalan Kerawam se-Jawa Barat’ yang dilakukan oleh Bimas Katolik Kemenag Jabar di Lembang, 12-14 Juli 2013.

“Umat Katolik harus peduli dan terjun dalam perpolitikan. Tujuannya agar kita mengetahui lingkungan kita. Jangan sampai gereja terbakar baru kaget dan bertanya mengapa gereja dibakar,” tegas Tjipta Lesmana.

Jelasnya, umat Katolik diminta mengikuti terus perkembangan lingkungan masyarakat, berkomunikasi bahkan berdiskusi dengan mereka. “Diskusi bukan hanya internal, tapi yang penting eksternal dengan unsur masyarakat lain, kalau bisa dengan saudara kita yang radikal. Tak ada salahnya.”

Menurut magister komunikasi dari University of Chicago dan doktor komunikasi dari Universitas Indonesia itu, buat apa kalau umat Katolik hanya bergaul dengan orang Kristen. “Tidak dapat added value. Orang Katolik harus bergaul dengan non-Kristen, dengan Islam dan yang radikal. Kita mesti inklusif. Kita mesti berdialog.”

Meskipun mengaku hanya baca sepotong-sepotong, namun penulis beberapa buku termasuk yang paling populer “Dari Soekarno hingga SBY” itu mengatakan bahwa Konsili Vatikan II sangat penting karena mengajarkan Gereja supaya terbuka “bahkan belajar komunisme.”

Dia pun senang mendengar bahwa Paus Yohanes Paulus II adalah paus pertama yang berkunjung ke Mesir bertemu dengan paus Koptik, Paus Shenouda III dan Patriark Ortodoks Yunani dari Alexandria, bahkan paus Katolik pertama yang berkunjung dan berdoa di sebuah mesjid di Damaskus, tahun 2001. “Berarti, yang di bawah pun harus terbuka dan berdialog,” katanya.

Meskipun Tjipta Lesmana mengatakan “tidak mau dan jangan berpolitik praktis,” tetapi dia tidak melarang umat Katolik terjun dalam politik praktis. Hanya diingatkan bahwa seorang temannya mengatakan, permainan politik itu keras, sadis dan kotor, meskipun dalam partai yang sangat nasionalis.

“Dalam permainan politik, kalau sudah sampai to be or not to be, maka biasanya digunakan segala cara, bahkan dengan magic. Dalam perpolitikan segala cara dipakai dan terakhir adalah cara paling sadis, political assassinations, dengan mengirim sniper,” tegas Tjipta yang pernah belajar publisistik dan hukum itu.

Terjun ke politik itu sah, “tapi harus ekstra hati-hati,” tegas dosen di Pelita Harapan itu seraya menegaskan bahwa seseorang yang ingin meluruskan sesuatu yang berengsek dan tidak adil harus pertama membuat analisis kekuatan dan kelemahannya sendiri serta kekuatan dan kelemahan orang yang ingin diluruskan.

“Kalau hasil analisis mengatakan tidak sanggup, jangan lakukan, karena kalau saya hantam saya mati. Be realistic. Mundur. Karena semua orang mencari kebahagiaan,” kata pria kelahiran Jakarta 25 Juni 1949 menggaris bawahi Matius 10:16 “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Menghadapi situasi yang kacau di negara ini, Tjipta Lemana meminta umat Katolik untuk tetap tenang, tetap bekerja dan terlibat aktif atau berkarya sebaik-baiknya sesuai bidangnya masing-masing agar bisa menggarami dunia.***