ramadhan5nu81

 

Bulan Suci Ramadan adalah “waktu khusus untuk memperbaharui persahabatan dan solidaritas antara umat Kristen dan Muslim,” tulis pesan Ramadhan pusat dialog lintas iman bernama “Silsilah” yang berbasis di Zamboanga, Pulau Mindanao, Filipina. Pusat itu didirikan lebih dari 25 tahun lalu oleh misionaris Katolik, Pastor Sebastiano D’Ambra.

“Kami berharap agar Ramadhan dirayakan dalam semangat persahabatan dan rekonsiliasi dan agar para pemimpin terpilih yang baru di Filipina melayani rakyat dengan keadilan dan keadilan,” lanjut teks yang dikirim ke Fides itu.

Pesan itu mengenang “penderitaan begitu banyak saudara-saudari Muslim seluruh dunia, terutama saat ini di Suriah, Palestina, Mesir, dan Pakistan.” Secara khusus, disebutkan penderitaan banyak umat Islam di Filipina, khususnya di Mindanao. “Mengapa ada begitu banyak penderitaan?” tanya “Silsilah.” Penyalahgunaan kekuasaan, penggunaan obat terlarang dan banyak kegiatan ilegal dan tidak bermoral, jawabnya.

Selain itu, orang tetap diam karena ketakutan, tapi “diam sering melanggengkan diskriminasi, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi dan pelanggaran hukum.”

Ramadan, lanjutnya, “mengingatkan umat Islam di dunia akan pentingnya doa dan puasa sebagai cara untuk lebih dekat dengan Allah dan memperhatikan orang miskin. Ramadan adalah kesempatan penting untuk pemurnian.

Umat Kristen berterima kasih kepada umat Islam karena memberikan mereka teladan ini.” “Silsilah” juga mengingatkan bahwa orang Kristen dan Muslim “terkait sebagai saudara dan saudari, anggota keluarga manusia yang sama, yang diciptakan oleh Tuhan yang sama, yang mengasihi kita semua.”

Ditegaskan, Silsilah itulah yang harus dibangun bersama, “seraya bersama-sama bekerja keras membangun dialog yang merupakan tanda kehadiran Allah di antara kita,” seperti dorongan Alquran dan Alkitab kepada kita untuk dilakukan. “Semoga bulan Ramadan jadi waktu khusus bagi umat Islam untuk mengingat pesan ini dan bagi umat Kristen dan umat agama lain di dunia untuk bergerak bersama dalam kerukunan.”

Diharapkan juga agar “Perbedaan budaya dan agama tidak menjadi penyebab saling penghinaan, melainkan kesempatan bekerja sama demi kebaikan bersama,” tanpa “menutup pintu hati kepada umat dari agama dan budaya berbeda,” melainkan menghargai “yang kita miliki bersama dan percaya bahwa kita semua punya hak dan martabat yang sama.”***