Seminari Kakaskasen

 

Dengan diantar oleh orang tuanya, 66 seminaris baru masuk ke Seminari Menengah Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara. Berjubel dalam keramaian, para orang tua dan pengantar lainnya mencari nomor tempat tidur di sebuah bangsal yang panjang dengan tempat tidur bersusun.

Menurut Rektor Seminari Kakaskasen Pastor Poltje Pitoy MSC, yang diteruskan dalam beberapa milis oleh Pastor Albertus Sujoko MSC, yang diterima untuk tahun pelajaran tahun ini sebanyak 70 anak, tetapi 4 anak menyatakan tidak jadi masuk ke seminari itu tanggal 11 Juli 2013.

Dengan dibantu 16 seminaris tingkat terakhir (rethorica), Pastor Pitoy serta Pastor Mawuntu melayani para seminaris baru berserta orangtua dan pengantarnya.

Pastor Sujoko, yang pernah juga belajar di seminari menengah, merasakan pengalaman indahnya panggilan yang sedang diikuti oleh anak-anak itu.

“Saya melihat wajah-wajah polos yang belum tahu banyak hal dan ingin tahu banyak hal. Mereka belum mengalami bagaimana rasanya menjadi imam seperti saya, dan mereka ingin mengalaminya,” kata imam itu.

Wajah-wajah para pengantar, mama dan papanya, adik dan kakaknya, bahkan opa dan omanya diamati oleh imam itu satu persatu, seraya berkeliling di bangsal itu. “Mereka tersenyum gembira karena anak-anak mereka boleh diterima di seminari. Mereka bahagia mengantarkan anak-anak mereka mengikuti panggilan Tuhan.”

Ada sepasang bapak-ibu duduk diam di tempat tidur dan anaknya tiduran di samping mereka. Pastor Sujoko lalu bertanya asal mereka. Tapi, “karena mereka tidak mempunyai kenalan, jadi mereka diam-diam saja, dan karena anak itu juga belum punya kenalan, maka di tengah keramaian, ia memilih tiduran saja,” jelas imam itu.

“Bagaimana perasaan anak itu?” Pastor Sujoko ingin tahu. “Pastilah ia merasakan semuanya serba baru dan masih asing. Ia belum punya teman, masih ingat-ingat pengalaman di rumah. Mungkin dia merasa berat dan setengah hati mengikuti panggilan Tuhan yang belum jelas itu,” lanjut imam itu.

Sebenarnya, Pastor Sujoko ingin berempati dengan pergumulan anak itu di hari pertama masuk seminari. Namun, imam itu tidak tahu namanya dan tidak menyapanya juga karena anak itu tiduran dengan muka ditutup bantal. “Mungkin cepek dalam perjalanan dan merasa mengantuk.”

Namun, mamandang anak yang baru mulai hari pertama di seminari menengah tingkat pertama itu, Pastor Sujoko berefleksi, “Bagaimana seandainya saya menjadi dia? Apakah kiranya yang saya rasakan saat itu, karena saya memaknai peristiwa di ruangan bangsal tempat tidur itu atas cara yang berbeda.”

Benar, kini Pastor Sujoko sudah menjadi imam bahkan sudah mengajar mayor II di Seminari Tinggi. “Saya seperti melihat langkah pertama yang diayunkan anak-anak itu untuk sampai kepada imamat nanti, dengan melawati tahun-tahun pendidikan dan pembinaan yang sangat panjang. Ada pepatah mengatakan ‘Jarak seribu kilometer diawali dengan langkah pertama.’ Dan anak-anak itu, mereka sedang mengayunkan langkah-langkah pertama mereka.”

Mantan Ketua STF Seminari Pineleng itu lalu mengajak kita berdoa untuk anak-anak itu. “Kita tidak tahu berapa dari jumlah 66 anak itu nanti akan menjadi imam, dan siapa mereka itu nanti kita tunggu saja pengumuman tahbisannya pada tahun 2028,” kata imam itu seraya membeberkan jumlah panggilan sedunia 2011.

Jumlah imam dari tahun 2000 ke 2010, menurut Buku Tahunan Pontifikal dari Roma tahun 2011, bertambah dari 405.000 menjadi 413.000. “Jadi ada pertambahan 8.000 imam selama 10 tahun. Berarti tiap tahun ada 800 tahbisan imam baru,” kata imam itu.

Di tahun 2011, lanjutnya, jumlah umat Katolik sebanyak 1.214.000.000 dan di tahun 2010 sebanyak 1.196.000.000. “Jadi ada pertambahan 8.000.000 dalam setahun.” Di Afrika jumlah umat Katolik tahun 2010-2011 bertambah 4.3 %, di Asia 2.0 %, di Eropa, Amerika dan Oceania 0.3%.

Tahun 2011, jumlah imam di seluruh dunia sebanyak 413.418 orang. “Ada ketambahan 1.000 imam dibandingkan tahun 2010.” Diakon Permanen tahun 2001 ada 29.000 dan tahun 2011 ada 41.000, jadi ada pertambahan 12.000 selama 10 tahun. Sekitar 97.4% diakon permanen berada di Eropa dan Amerika.

Buku Tahunan Pontifikal itu juga mencatat penurunan jumlah kaum religius di Eropa sekitar 22 %, di Amerika dan Oceania 21 %, dan peningkatan terjadi di Asia dan Afrika.

“Jumlah seminaris tahun 2011 sebanyak 120.616 siswa. Jumlah itu adalah 2.000 siswa lebih banyak dari tahun 2010,” kata imam itu seraya menyangkan tidak dijelaskan apakah ini hanya jumlah murid seminari menengah atau juga frater dari seminari tinggi.***