Lukas

 

Oleh Lukas Awi Tristanto

 

Tahun 1990, Pastor Gregorius Utomo Pr mendapat tawaran dari Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC) untuk menjadi tuan rumah seminar pertanian se-Asia. Meskipun mendapatkan berbagai tantangan, lelaki yang biasa disapa Romo Tomo itu pun menganggap kesempatan itu sebagai kairos atau waktu terbaik yang dianugerahkan Tuhan yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun sesama. Maka, ia pun menyanggupinya.

 

Sebagai seorang tokoh agama yang menghayati imannya secara mendalam, tentu ia sangat peka menangkap saat-saat yang tepat. Lelaki yang setia berdevosi kepada Hati Kudus Yesus itu sadar betul bahwa kemiskinan sedang melanda Indonesia waktu itu, nasib petani tak berbeda dengan kaum miskin lainnya, hanya menjadi obyek kekuasaan politik maupun kapitalis. Petani tak berdaulat atas benih, pupuk, bahkan pola atau cara pertaniannya. Alih-alih makin sejahtera, petani hidup makin sengsara.

 

Program intensifikasi yang dikondisikan pemerintah orde baru ternyata berdampak pada kerusakan lahan dan biodiversitas serta mengancam hidup manusia itu sendiri. Penggunaan pupuk kimia buatan membuat tanah tidak subur. Penggunaan obat pestisida membuat banyak spesies hewan punah dan beberapa spesies kebal racun. Pencemaran air, tanah dan udara makin nyata akibat penggunaan obat-obatan tersebut. Kesehatan manusia makin terancam karena mereka mengonsumsi “racun” dalam makanan hasil pertaniannya. Timbullah berbagai macam penyakit yang mengganggu hidup manusia.

 

Sebagai seorang imam yang juga pernah merintis Aksi Puasa Pembangunan dan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi yang sampai hari ini masih dikembangkan serta memiliki dampak positif dalam pemberdayaan ekonomi, Romo Tomo bergelut untuk membangun sistem pertanian yang lebih bermartabat.

 

Diawali dengan seminar pertanian se-Asia di Ganjuran itu dan dalam memperingati Hari Pangan se-Dunia 16 Oktober 1990, lahirlah Deklarasi Ganjuran yang  isinya mengajak semua pihak membangun pertanian lestari dan pedesaan yang lestari.

 

Pertanian dan pedesaan lestari ditandai dengan, pertama, bersahabat dengan alam; kedua, murah secara ekonomis; ketiga, berakar atau sesuai kebudayaan setempat; dan keempat, berkeadilan sosial untuk siapa saja dan apa saja.

 

“Maka deklarasi Ganjuran ini, kalau disingkat, berarti mengajak semua saja untuk menjadi berkat bagi siapa saja dan apa saja demi keadilan dan pelestarian keutuhan ciptaan,” kata Romo Tomo dalam program Pijar Katolik TVRI Yogyakarta, 30 Juni 2013.

 

Sebagai tokoh agama yang beriman secara mendalam dan menghayati imannya berdasar pada konteks hidup yang nyata, kepekaannya akan keadaan sosial masyarakat dan alam lingkungan makin nyata. Beriman di Asia atau di Indonesia tidak pernah bisa lepas dari empat aras masalah ini yakni, kemiskinan, agama-agama, budaya dan alam lingkungan.

 

Tiga hal pertama pernah dibicarakan dalam FABC menjadi pola tridialog agama di Asia yakni dialog dengan agama-agama, dialog dengan kemiskinan, dan dialog dengan kebudayaan. Namun, dalam perkembangannya, ternyata alam lingkungan hidup manusia memasuki kondisi yang sangat memprihatinkan.

 

Gerakan pertanian lestari atau organik yang dirintis oleh Romo Tomo menjadi semacam oase baru bagi solusi keadilan sosial karena martabat petani makin dihargai. Gerakan pertanian tersebut juga menjadi simpul persaudaraan antarpetani dari berbagai macam ragam iman yang dihayati. Terjadilah dialog iman dan dialog karya dalam proyek pertanian lestari. Persaudaraan sejati tercipta. Antarmanusia saling menghargai apapun latar belakangnya. Musuh bersamanya adalah kemiskinan dan ketidakadilan.

 

Pertanian lestari pun menjadi peluang membangun persaudaraan semesta, ketika semua petani menghormati alam dan tidak rakus mengeksploitasi tanah pertaniannya hanya untuk memproduksi komoditas pertanian. Alam benar-benar dihargai. Walau bagaimanapun juga tanah adalah sakral, sumber kehidupan para petani. Tanah, air, udara menjadi saudara-saudari bagi manusia, partner hidup manusia.

 

Romo Tomo sadar betul bahwa untuk setia dalam proyek tersebut sangat melelahkan dan membutuhkan stamina rohani yang tinggi. Tak jarang, para aktivis bahkan agamawan putus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam menangani proyek sosial.

 

Demikian juga dengan proyek pertanian organik. Dugaan kristenisasi, cemoohan dan perlawanan politik menjadi sandungan. Maka, dalam hal ini kedalaman iman menjadi penting supaya stamina rohani terjaga. Antara altar dan pasar pun seimbang. Ada doa, ada karya. Ibarat ranting, ia harus menempel pada pohon supaya bisa berbuah. Maka, ia “menempel” pada Tuhan supaya bisa beramal setia.

 

Jerih payahnya bersama para petani tak sia-sia. Makin banyak masyarakat sadar akan pentingnya hidup organik. Makin banyak orang sadar untuk mencintai lingkungan hidup. Makin banyak orang sadar bahwa keadilan ternyata juga harus diterapkan lintas generasi. Jika kita mendapat berkat alam saat ini, kita pun harus berbagi adil dengan anak-cucu kita kelak.

 

Gerakan pertanian organik yang diperjuangkan Romo Tomo dan banyak orang lainnya tentu sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Indonesia dilanda korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan hidup. Dalam pertanian organik yang digagas Romo Tomo terkandung pembelajaran kejujuran untuk berbuat adil baik bagi sesama manusia maupun alam lingkungan.

 

Pertanian organik juga mengajarkan persaudaraan apa pun latar belakang petani, karena semuanya berjuang demi ketahanan pangan. Gerakan itu sebenarnya menantang kita semua, khususnya umat yang beragama, “bagaimana bisa menyembah Tuhan yang tidak kelihatan, jika kepada sesama manusia apa pun latar belakangnya (agama, suku, sosial, politik) dan alam yang kelihatan saja kita tidak bisa bersaudara dan berbuat adil?”***