pope-francis-priest-1

 

“Sakit hati saya kalau saya melihat seorang imam atau biarawati dengan model mobil terbaru,” kata Paus Fransiskus ketika berbicara dalam sebuah peristiwa internasional yang berlangsung empat hari untuk para seminaris, novis dan mereka yang berada dalam perjalanan panggilan.

Paus Fransiskus memberikan kuliah spontan tanpa persiapan untuk seminaris dan novis dari seluruh dunia yang berkumpul di Aula Paulus VI tanggal 5 Juli 2013 seperti dilaporkan oleh Radio Vatikan.

“Mobil-mobil perlu, tapi gunakan mobil yang lebih sederhana. Pikirkanlah betapa banyak anak mati kelaparan dan persembahkanlah tabungan untuk mereka,” kata Bapa Suci seraya mendorong semua orang yang mempunyai panggilan untuk menjadi otentik dan benar, dan mengingatkan mereka agar tidak pernah takut untuk mengakui dosa-dosa sendiri.

Berbicara tentang pembinaan, Paus Fransiskus mengatakan ada empat pilar dasar: pembinaan spiritual, pembinaan intelektual, hidup apostolik, saat kita harus pergi dan memberitakan Injil, dan hidup berkomunitas. “Kalian harus membangun panggilan kalian pada empat pilar ini.”

Paus juga memuji almarhum Ibu Teresa, yang peduli kepada orang sakit yang sangat melarat di Calcutta, India, dan menyatakan dia sebagai contoh yang berani. “Saya menginginkan Gereja yang lebih misionaris,” kata Paus kepada orang-orang muda itu. “Bukan Gereja yang begitu tenteram, tetapi Gereja yang indah, yang terus maju.”

Sebelumnya Bapa Suci mengatakan kepada peserta kuliah itu untuk mempertahankan “kesegaran” dan “sukacita” dalam kehidupan mereka. “Tidak ada kesedihan dalam kekudusan,” kata Paus Fransiskus seraya meminta mereka untuk tidak tergoda oleh budaya yang mengagungkan nilai-nilai sementara, dan menghindari perangkap seperti smartphone (telepon pintar) terbaru dan mobil mahal agar bisa membaktikan lebih banyak sumber daya guna membantu orang miskin.

“Bukan kalian yang saya tegur,” kata Paus. Dijelaskan bahwa kita hanyalah korban budaya sementara saat ini, “karena di hari dan abad ini sulit membuat pilihan definitif.” Diungkapkan bahwa ketika dia masih muda keadaan waktu itu lebih mudah karena budaya waktu itu mendukung pilihan-pilihan definitif, baik dalam kehidupan suami-istri, dalam hidup bakti atau dalam kehidupan imamat.

Tapi hari ini, “tidaklah mudah membuat pilihan definitif. Kami adalah korban budaya sementara,” kata Bapa Suci yang kemudian menegur para seminaris dan novis karena “terlalu serius, terlalu bersedih.” Paus Fransiskus mengatakan, “ada yang tidak benar di sini.” Ditegaskan bahwa “dalam kekudusan tidak ada kesedihan,” dan bahwa klerus seperti itu tak punya “sukacita Tuhan.”

“Menjadi seorang imam atau seorang religius bukanlah terutama pilihan kami; itu adalah jawaban kami atas sebuah panggilan, panggilan cinta,” tegas Paus Fransiskus.

Paus juga menyoroti fakta bahwa ia tidak berbicara tentang sukacita dangkal. “Sensasi sesaat tidaklah benar-benar membuat kita bahagia,” kata Paus seraya memperingatkan akan godaan untuk mencari “kesenangan duniawi dalam smartphone terbaru dan mobil tercepat.”

Hari untuk Seminaris dan Novis berakhir tanggal 6 Juli 2013 dengan Misa yang dipimpin Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus. Sebelumnya, sekitar 6000 pria dan wanita muda dari 66 negara melakukan ziarah ke makam Santo Petrus, pengakuan dosa, Adorasi Ekaristi, merefleksikan dan berdoa untuk panggilan mereka di belasan gereja dan basilika di Roma, dan Prosesi Maria di Taman Vatikan.***