Mgr Pujasumarta: Gereja adakan adorasi paling utama dan puncak saat komuni

 

“Tubuh Kristus.” “Amin.” Terdengar dialog singkat antara seorang imam dan seorang umat saat menerima Tubuh Kristus … dan hosti itu kemudian disantap. “Pada saat itu terjadi adorasi!”

 

Mgr Johannes Pujasumarta Pr bercerita dalam “Sambung Rasa Adorasi” di Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas, Semarang. Menurut Koordinator Tim Kerja Adorasi Paroki Tanah Mas, Crecentia Dwiani, acara diadakan sebagai penguatan dan komunikasi bagi adorator yang selama ini melakukan adorasi.

 

“Menyantap Tubuh Kristus berarti membuka diri, mengungkapkan cinta dan menaruh hormat kepada yang disantap. Ada penghormatan ada penyembahan,” demikian Uskup Agung Semarang dalam acara yang dihadiri 400 peserta.

 

Memang adorasi juga berlangsung saat Doa Syukur Agung, kata Mgr Pujasumarta, namun “waktu komuni, Gereja mengadakan adorasi yang paling utama, di situ ada adorasi yang puncak, sehingga Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan kita.”

 

Mgr Pujasumarta mengamati kerinduan umat supaya pengalaman puncak saat Ekaristi diperluas supaya tidak hanya terjadi di gereja tapi juga di luar gereja. “Maka, ada momentum sangat penting setiap Misa yaitu momentum perutusan atau dalam bahasa Latin disebut Ite (pergilah), lengkapnya Ite, missa est!”

 

Artinya bukan sekedar “Pergilah, Misa telah berakhir,” tetapi “Pergilah, kamu diutus ke seluruh penjuru dunia, diutus untuk bertemu dengan banyak orang, diutus untuk bekerja, diutus untuk hadir di tengah-tengah dunia menghadirkan diri sebagai tanda bahwa Allah mencintai kita.”

 

Momentum perutusan menjadi penting, lanjut prelatus dalam acara yang berlangsung 24 Mei 2013 itu, “supaya kita tidak menjadi puas saja ketika berada di dalam gereja, tetapi apa yang membuat kita puas di dalam gereja kita wujudkan, kita nyatakan di luar gereja.”

 

Selain itu, anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama itu menegaskan bahwa kita juga diutus supaya menemukan wajah Kristus dalam wajah orang-orang yang menderita. “Jadi wajah Kristus tampak paling nyata dalam diri kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.”

 

Kekuatan Ekaristi yang diterima saat Ekaristi, kata Mgr Pujasumarta kepada para adorator, dibagikan kepada mereka semua. “Ini perutusan yang sangat penting, tidak hanya kepada orang-orang di samping kita, tetapi juga kepada seluruh alam ciptaan.”

 

Pada perkembangannya, Ekaristi yang diselenggarakan setengah jam dalam Misa harian atau satu jam dalam Misa mingguan, diperpanjang atau diperdalam dengan Adorasi Ekaristi yang merupakan “perpanjangan dan pendalaman pengalaman akan Ekaristi.”

 

Namun, Adorasi Ekaristi tidak bisa dilepaskan dari Adorasi Besar, Adorasi Agung yang terjadi saat konsekrasi dan saat komuni. “Maka orang tidak bisa mengatakan, aku kan sudah adorasi maka tidak usah Ekaristi saja. Lalu adorasinya bukan Adorasi Ekaristi,” kata Mgr Pujasumarta.

 

Menurut uskup yang lahir di Surakarta itu, semakin sering orang melakukan Adorasi Ekaristi, semakin dia rindu bersatu dengan Kristus yang menggunakan Tubuh-Nya sebagai bahasa kasih. Adorator pun menanggapinya dengan bahasa tubuh, dengan hadir di hadapan Sakramen Mahakudus.

 

“Ungkapan-ungkapan badan menjadi penting. Bersembah sujud adalah bahasa tubuh untuk mengatakan bahwa saya cinta pada-Mu Yesus, karena Engkau telah cinta padaku. Itu terjadi kalau kita mengadakan Adorasi Ekaristi Abadi,” kata Mgr Pujasumarta.

 

Waktu beradorasi tergantung kemampuan dan kondisi adorator. “Mungkin kita hanya bisa menyediakan satu jam satu minggu atau satu jam sebulan tidak apa-apa, sesuai kemampuan dan sesuai kondisi yang ada. Yang penting, ada hati untuk merasakan dan merayakan Yesus, Allah yang beserta kita, dan saya ingin juga beserta dengan Yesus,” tutur uskup agung.***