Raker Mid Semester Keuskuan Bandung 2013

 

Kalau Gereja tidak memberikan perhatian khusus kepada saudara-saudaranya yang kurang beruntung, berarti mereka mengingkari identitas Gereja, kata Apostolik  Keuskupan Bandung Mgr Ignatius Suharyo Pr kepada wakil-wakil dari semua paroki, komisi, sub-komisi, biro, kelompok kategorial,  lembaga hidup bakti, dan yayasan di keuskupan itu.

 

Mgr Suharyo menghadiri Raker Tengah Tahun 2013 Keuskupan Bandung yang diselenggarakan di Lembang, 21-22 Juni 2013, serta memberikan catatan dan masukan kepada 173 orang yang hadir. Acara diawali dengan penyampaian draft Pedoman Dewan Pastoral Paroki untuk seluruh Keuskupan Bandung yang menekankan penyatuan PGAK ke dalam DPP.

 

Peserta terlibat dalam berbagi kisah tentang apa yang sudah dilaksanakan dalam semester pertama di Tahun Iman dan Tahun Solidaritas Sosial, mendengarkan sharing pelayanan dan masukan yang dapat menjadi inspirasi, mendalami masukan yang dapat menjadi inspirasi untuk mengisi aktivitas pastoral di semester kedua, serta menetapkan rencana aksi lewat diskusi per dekenat, istilah baru pengganti wilayah.

Dalam catatannya, Mgr Suharyo mengatakan, persentase kolekte yang dikhususkan untuk orang miskin sebesar 25 persen di keuskupan itu sudah bagus. “Angka yang cukup besar, 25 persen.”

 

Namun, solidaritas atau memberi perhatian khusus bagi orang miskin harus mengambil bentuk. Melihat rata-rata orang yang bersekolah di Indonesia hanya sampai tujuh tahun, maka “dari data itu sudah jelas bahwa dunia pendidikan membutuhkan perhatian,” kata Mgr Suharyo yang puas mendengar beberapa paroki, lembaga dan yayasan yang sudah memberi beasiswa untuk anak sekolah.

 

“Tetapi secara lebih konkret, setiap komunitas tentu bertanya, apa yang bisa dilakukan supaya lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi dan dengan demikian menjadi semakin Kristiani?” tanya Mgr Suharyo seraya menegaskan bahwa tidak gampang sampai pada pertanyaan itu karena tidak sedikit orang yang cuek-bebek melihat realitas yang tidak manusiawi dan dengan mudah mengatakan ‘itu urusan pemerintah, bukan urusan saya.’

 

Pertanyaan itu, lanjut Uskup Agung Jakarta, baru akan muncul kalau ada kompetensi etis yang merupakan jiwa dari Keuskupan Bandung, mengingat Arah Dasar Keuskupan Bandung menyebut bahwa “Umat Allah Keuskupan Bandung bertekad mewujudnyatakan cita-citanya melalui hidup dan karya berdasarkan cinta kasih yang dijiwai kemurahan hati dan kesediaan berbagi dengan meniru perbuatan Orang Samaria Yang Baik Hati   (Luk 10: 25-37).”

 

Tekad itu menjadi pendorong untuk berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan material dan spiritual masyarakat. “Persis itulah namanya bela rasa!” kata Mgr Suharyo yang menjelaskan bahwa compassion berasal dari kata Latin (cum = bersama-sama; dan patire = menderita), tepatnya rela sampai menderita bersama orang yang menderita.

 

Ketua KWI itu yakin bahwa Fokus Pastoral 2013 Keuskupan Bandung dengan judul “Solidaritas Sosial: Pemuliaan Martabat Manusia dan Pemulihan Keutuhan Ciptaan” akan ditempatkan dalam konteks lebih luas dan berharap pelaksanaannya semakin mantap, “karena melakukan solidaritas sosial sekecil apa pun akan memuliakan martabat manusia, membangun kebaikan bersama, dan menunjukkan bahwa kita memang sedang mengaktualisasikan identitas Gereja, miskin, hina, papa, amal dan sebagainya.”

 

Memberi perhatian lebih kepada yang kurang beruntung adalah salah satu pilar Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang penting dibicarakan dalam Tahun Iman di Keuskupan Bandung, karena ASG adalah bagian dari iman, dan semboyan Keuskupan Bandung “tidak hanya tinggal di altar tetapi masuk ke pasar” sebenarnya adalah ASG, kata Mgr Suharyo.

 

Solidaritas sosial, tegas Mgr Suharyo, adalah bagian dari ASG yang tidak berdiri sendiri, karena sekurang-kurangnya ada empat pilar ASG yakni martabat manusia, kebaikan bersama, solidaritas, dan memberikan perhatian lebih kepada yang kurang beruntung.***