P1150089

 

 

Merangkul kelompok-kelompok yang memiliki aspek kultural dan spiritual yang memuat local wisdom (kebijakan lokal) sangat selaras dengan sikap Gereja Universal sebagaimana ditegaskan oleh para Bapa Konsili Vatikan II dalam Nostra Aetate, yakni Pernyataan tentang Hubungan Gereja (Katolik) dengan Agama-Agama non-Kristiani.

 

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Pastor Aloys Budi Purnomo Pr menyampaikan hal itu pada 320 orang yang berkumpul di Gereja Santo Aloysius Majasanga Surakarta.

 

Pastor Budi kemudian secara spesifik menunjukkan isi alinea pertama dokumen Nostra Aetate itu kepada peserta sarasehan kebatinan tanggal 23 Juni 2013 itu.

 

”Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa terdapat kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa Ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam,”  demikian bunyinya.

 

Bahkan dokumen itu menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci.

 

“Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun, Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni jalan, kebenaran dan hidup”.

 

Dalam alinea ketiga  dikatakan, “Para Bapa Konsili Vatikan II sungguh-sungguh mendorong para putera-puterinya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup Kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.”

 

Termasuk dengan kelompok kebatinan, Gereja Katolik diharapkan menjalin dialog dan kerja sama. Menurut Pastor Budi, kebatinan adalah upaya manusia untuk bersatu dengan Yang Mahaesa secara langsung, tanpa melalui pengantara, dengan cara menyembah sujud atas dasar “iman”, kesucian dan budi luhur.

 

“Seorang penghayat kebatinan percaya kepada Yang Mahaesa dan Mahakuasa, Sang Pencipta. Misalnya, menyebut Yang Mahaesa dan Mahakuasa sebagai Ibu Bumi dan Bapa Kuasa,” kata imam itu.***