Pastor Guido Suprapto Pr

 

Pemilu 2014 tidak sampai setahun lagi. Berbagai gerakan partai politik mulai terasa. Kampanye legislatif sudah mulai berkumandang, maka Gereja Katolik juga membutuhkan sarana untuk mempersiapkan diri.

Untuk mempersiapkan pesta demokrasi itu, di saat masyarakat dan bangsa menghadapi banyak persoalan, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI Pastor Guido Suprapto Pr mengatakan kepada PEN@ Indonesia dalam wawancara bulan Mei 2013 bahwa “Keberadaan dan kehadiran Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Katolik masih dibutuhkan, bahkan semakin dibutuhkan saat ini.”

Secara rutin, Komisi Kerawam KWI memang mengundang Pengurus Pusat Ormas Katolik untuk membangun komunikasi dan sinergitas. “Pertemuan 21 Maret 2013, misalnya, melahirkan komitmen bersama untuk mempersiapkan Gereja Katolik untuk menghadapi Pemilu 2014 dan tahapan-tahapannya, seperti menyapa dan memberikan dukungan kepada caleg Katolik, walaupun terbatas,” kata imam itu.

Menurut imam dari Keuskupan Agung Palembang itu, peran Ormas Katolik menjadi signifikan dalam memperbaiki banyak persoalan saat ini. “Ormas Katolik mempunyai peluang dan kesempatan penting untuk terlibat dalam bidang kemasyarakatan dan sospol,” tegas imam itu.

Dijelaskan bahwa Ormas Katolik adalah perkumpulan yang beranggotakan umat beriman Kristiani awam dan memiliki AD/ART, yang memuat visi, misi dan pejabaran sifat atau identitas, serta mengatur mekanisme organisasi, serta “mempunyai ciri khas yang memegang teguh nilai-nilai Kristiani dalam berorganisasi dan dalam kiprah di tengah masyarakat.”

Ciri khas dan identitas Kristiani itu, tegas imam itu, harus dipegang teguh oleh Ormas Katolik, yang sesungguhnya tidak dibentuk atau didirikan oleh lembaga Gereja atau hierarki, “tapi atas inisiatif umat beriman Kristiani awam, yang kemudian mendaftarkannya kepada instansi pemerintah, seperti Kementrian Hukum dan HAM, Kementrian Pemuda dan Olah Raga, atau Kementrian dalam Negeri.”

Kalau berkali-kali terjadi pertemuan antara Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Pemuda Katolik (PK), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dengan Komisi Kerawam KWI, itu karena komisi itu “menempatkan Ormas Katolik sebagai rekan kerja dalam rangka pengembangan dan pemberdayaan awam untuk terlibat dalam masyarakat, serta rekan kerja dalam mempersiapkan dan menciptakan kader-kader awam.”

Pastor Guido Suprapto memandang Ormas Katolik merupakan tempat strategis bagi kaderisasi awam sekaligus sebagai ujung tombak Gereja dalam berperan aktif di masyarakat luas, bahkan secara khusus mengambil peran dalam keterlibatan di bidang politik.

“Ormas Katolik sampai saat ini masih sejalan dengan makna itu, walaupun perlu revitalisasi dan jika perlu re-orientasi perwujudan visi dan misi yang disesuaikan dengan isu-isu atau persoalan aktual masyarakat. Perlu signifikasi dan relevansi kehadiran dan perannya,” kata imam itu seraya berharap agar Ormas Katolik tidak lagi terbelenggu persoalan internal.

Menjawab pertanyaan apakah Ormas Katolik masih dibutuhkan saat ini, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI dengan tegas mengatakan “Ormas Katolik masih dibutuhkan, bahkan semakin dibutuhkan keberadaan dan kehadirannya saat ini!”

Di tengah situasi masyarakat dan bangsa yang banyak persoalan, jelas imam itu, “keterlibatan dan peran Ormas Katolik dalam memperbaikinya menjadi signifikan, karena mereka punya peluang dan kesempatan penting untuk terlibat dalam bidang kemasyarakatan dan sospol.”

Imam itu menyayangkan bahwa saat ini masih ada masalah internal, misalnya persoalan organ kepengurusan yang mempengaruhi dinamika internal ormas. “Ini semestinya tidak perlu terjadi atau diminimalisir sehingga tidak memperlemah eksistensi dan semangat perjuangan.”

Imam itu bersyukur bahwa mekanisme organisasi yang diatur dalam AD/ART dan semangat Kristiani bisa mengatasi masalah internal ormas-ormas itu. “Kalau ada masalah dalam Ormas Katolik, hierarki langsung atau Komisi Kerawam membantu sebagai bentuk tanggungjawab dan perhatian bagi umatnya.”

Selain itu imam itu berharap Ormas Katolik bisa membaca isu-isu aktual dan memberikan tanggapan dan pandangan kristisnya. “Dalam menanggapi produk UU atau Perda, misalnya, tampaknya Ormas Katolik belum optimal,” imam itu mengamati.***

Tinggalkan Pesan