Diakon

 

Bertepatan dengan Pesta Maria Mengunjungi Elisabeth Saudaranya, Uskup Weetebula, Sumba,  Mgr Edmund Woga CSsR, memberikan tahbisan diakon bagi 16 frater terdiri dari 13 diakon diosesan dan 3 frater dari Misionaris Clatretian (CMF) atau Misionaris Putra-Putra Hati Maria Imakulata.

Tahbisan itu diberikan dalam Perayaan Ekaristi di Kapela Seminari Tinggi Santu Mikhael Penfui Kupang, NTT, tanggal 31 Mei 2013.

Diakon-diakon diosesan itu, masing-masing lima dari Keuskupan Agung Kupang, empat dari Keuskupan Atambua, dan empat dari Keuskupan Weetabula Sumba.

Peristiwa tahbisan itu, kata Mgr Woga merupakan hal biasa dalam tradisi gereja Katolik. “Meskipun demikian, mereka yang menerima tahbisan bukanlah orang biasa-biasa, namun merupakan orang-orang pilihan yang terpanggil untuk mewartakan karya penyelamatan ke tengah dunia.”

Tuhan, tegas Uskup Weetebula itu, tidak sembarang memanggil orang, “karena mereka yang dipanggil adalah orang-orang pilihan yang diberi tugas mewartakan karya penyelamatan.”

Karena itu, lanjut uskup, panggilan itu tidak bisa dijawab dengan ‘tidak’ tetapi harus disikapi dengan penuh kegembiraan seperti halnya bayi Yohanes Pembaptis yang melonjak kegirangan ketika disapa oleh Maria dalam kunjungan kepada Elisabeth saudaranya.

Mgr Woga menegaskan bahwa Tuhan tidak melepas bebas orang-orang pilihan itu tetapi diperlengkapi dengan cara Tuhan sendiri sehingga pelaksanaan karya penyelamatan bisa berjalan dengan baik, sehingga tidak ada alasan untuk menolak panggilan atau mengundurkan diri ketika sudah berjalan menapaki panggilan itu.

“Menolak panggilan atau mengundurkan diri itu sesungguhnya sikap kurang ajar terhadap Tuhan,” tegas Uskup Woga seraya meminta dukungan semua pihak untuk mendoakan dan memelihara panggilan yang telah dijalani kaum terpanggil hingga titik darah penghabisan.

Mewakili teman-temannya, Diakon Anton Kapitan Pr dari Keuskupan Atambua mengatakan bahwa menjadi diakon dan calon imam merupakan rahmat terbesar Tuhan yang mereka terima, dan bukan karena kepintaran yang ada pada diri mereka semata-mata tetapi juga karena dorongan orang tua, penilaian pimpinan biara, para pembina dan uskup.

“Oleh karena itu rahmat tersebut harus disikapi dengan sebaik-baiknya, sehingga bisa ditahbiskan menjadi imam dan menjalani panggilan tersebut dengan baik pula,” tegas Diakon Anton.***

Tinggalkan Pesan