Tubuh dan Darah Kristus Paus

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dirayakan setiap Kamis setelah Minggu Tritunggal Yang Mahakudus, namun di negara-negara yang tidak menjadikan hari itu sebagai hari libur, seperti Indonesia, pesta itu dirayakan hari Minggu setelah hari Minggu Tritunggal yang Mahakudus.

Tahun ini, Paus Fransiskus sendiri merayakan hari raya itu pada tanggal yang ditetapkan yakni 30 Mei 2013 dengan memimpin Misa di alun-alun depan Basilika Santo Yohanes Lateran, dan memimpin prosesi Ekaristi ke Basilika Santa Maria Maggiore.

Hujan turun sepanjang sore itu. Namun, seusai Misa, ribuan umat beriman yang hadir tetap mengikuti Paus dalam prosesi lilin bernyala selama 45 menit menuju Basilika Santa Maria Maggiore. Ribuan orang lain berjajar sepanjang rute perjalanan di sore yang dingin itu.

Namun, tidak seperti dua paus sebelumnya, Paus Fransiskus yang sudah berusia 76 tahun tidak menaiki mobil yang membawa Sakramen Mahakudus dalam monstran sambil berlutut di hadapannya, tapi berjalan kaki sepanjang 1,5 kilometer rute perjalanan itu mengikuti mobil itu. Sepanjang prosesi, dua imam berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus di dalam pick-up dengan mata tetap memandang monstran.

Hari sudah mulai gelap dan lampu-lampu jalan sudah dinyalakan saat prosesi tiba di Basilika Santa Maria Maggiore. Monstran diturunkan dari mobil dan ditahtakan di atas altar basilika. Paus lalu mendupainya dan umat menyanyikan Tantum Ergo. Setelah berdoa, Paus memberkati umat dengan menggunakan monstran itu.

Dalam khotbah Misa di hadapan sekitar 20.000 umat yang hadir di Basilika Santo Yohanes Lateran, seperti dilaporkan oleh Zenit dan Radio Vatikan, Paus Fransiskus merefleksikan cerita Injil tentang penggandaan roti dan ikan untuk 5000 orang laki-laki, dengan secara khusus memfokuskan kata-kata Kristus kepada para rasul: “Kamu harus memberi mereka makan.” Selain panggilan untuk solidaritas, kata-kata Yesus itu memunculkan tiga kata kunci, “pemuridan, persekutuan, dan berbagi,” kata Paus.

Paus Fransiskus mengibaratkan umat yang hadir itu sebagai orang banyak yang disebutkan dalam Injil, dan mengajak mereka berusaha mengikuti Yesus guna mendengarkan Dia, masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya dalam Ekaristi, “menemani-Nya sehingga Dia boleh menemani kita.”

Umat lalu diajak berefleksi bagaimana mereka mengikuti Yesus. “Yesus berbicara dalam keheningan, dalam misteri Ekaristi, dan setiap kali mengingatkan kita bahwa mengikuti-Nya berarti keluar dari diri sendiri dan menjadikan hidup kita, bukan milik kita sendiri, tetapi rahmat bagi-Nya dan bagi orang lain.”

Keinginan para murid untuk mengabaikan kerumunan orang karena tidak mungkin memberi mereka makan adalah godaan yang dimiliki orang Kristen, bahwa “Setiap orang untuk dirinya sendiri.”

“Seberapa sering kita orang Kristen punya  godaan ini! Kami tidak peduli dengan kebutuhan orang lain, dan menolak mereka dengan cara yang menyedihkan, “Semoga Allah membantu kalian” atau dengan cara yang tidak begitu menyedihkan, “Semoga berhasil,” kata Paus.

Pemecahan yang dilakukan Yesus berbeda bahkan mengejutkan murid-murid-Nya, ‘Kamu harus beri mereka makan!’” Tapi bagaimana memberi makan kepada banyak sekali orang? “Kami hanya punya lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan bagi semua orang ini.” Tapi Yesus tidak mengecilkan hati mereka. Ia minta para murid membuat orang duduk berkelompok atau berkomunitas dengan lima puluh orang tiap kelompok, menengadah ke langit, mengucap berkat, memecah-mecahkan roti dan memberikan roti itu kepada para murid-Nya supaya dibagikan.”

Itulah saat persekutuan yang mendalam. “Banyak orang yang dipuaskan oleh Sabda Tuhan, kini diberi makan dengan roti hidup-Nya,” lanjut Paus.  “Sore ini kita juga berada di sekitar meja Tuhan, meja pengorbanan Ekaristi, di mana Ia memberi kita sekali lagi tubuh-Nya,” kata Paus seraya mengatakan bahwa Ekaristi adalah sakramen persekutuan yang  membuat kita keluar dari diri sendiri dan “bersama menjalani kemuridan kita.”***

Tinggalkan Pesan